Rahimah: Modal Awalku Hanya Tekad dan Nekat

PONTIANAK- Banyak orang berpendapat usaha kuliner adalah usaha yang sangat mudah untuk dilakukan. Bahkan sumber pengetahuan usaha kuliner buatan rumah (made at home) bisa diperoleh dari belajar memasak online dan mudah diakses seperti Youtube, Cookpad, Resepedia, group WhatsApp  dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya, untuk memulai usaha kuliner, kita tidak harus terlebih dahulu pintar memasak, tetapi utamanya ada minat terlebih dahulu, setelah itu berani mulai mencoba dan mencoba, sesuai dengan resep dan langkah-langkah pembuatan yang sudah diajarkan.

Semua orang pada dasarnya memerlukan makanan. Selama manusia memerlukan makanan, berarti selama itulah bisnis kuliner akan terus ada.

Demikian dikemukakan Rahimah Hidayati, 24 tahun, Mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Pontianak, Rabu 24 Maret 2021, sehubungan dengan usaha Aneka Kripik Rahimah yang ditekuninya semenjak mulai kuliah.

Keseriusan Rahimah menekuni usaha kripik ubi kayu (Manihot esculenta) ini modal awalnya hanya Rp 200.000,- plus tekad dan nekat.

Dua ratus ribu rupiah, lima tahun lalu, tentu modal usaha yang sangat berarti bagi Rahimah saat meninggalkan kampong halamannya Desa Terap, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah untuk melanjutkan studinya diperguruan tinggi negeri di Kota Pontianak. Berbekal ketrampilan yang diajarkan ibunya, Rahimah mulai melirik ubi kayu untuk dijadikan bahan dasar pembuatan aneka makanan ringan yang rasa dan seleranya disesuaikan dengan keinginan konsumen.

Rahimah Hidayati

Jujur, ujar Rahimah, saya nekat dan punya tekad kuat untuk mandiri sambil kuliah. Nekat karena saya mempunyai kuat kemauan, tidak mau menyerah, bersikeras untuk bisa hidup dan mandiri dari hasil keringat sendiri.

Sedangkan tekad, menurut Rahimah, karena dirinya mempunyai kemauan yang pasti, kebulatan hati dan iktikad yang tak tergoyahkan. Iktikad yang dimaksud Rahimah yaitu ada nilai-nilai kejujuran, niat baik, dan ketulusan hati untuk memulai berbisnis.

Tekad, nekat, iktikad untuk memulai, mencoba berbisnis aneka kripik dari membuat sampai menjual langsung ini ditekuni Rahimah hingga mempunyai pelanggan atau konsumen yang menyukai buatan Rahimah. “Saya turun naik kantor-kantor pemerintahan, BUMN dan swasta yang ada di kota Pontianak,”ujar Rahimah dengan ekspresi serius.

Menurut Rahimah, dirinya selalu ingin mencoba dan mencoba sesuatu yang baru, sehingga tidak mengherankan jika ia terus belajar mendengarkan usul dan saran para pelanggannya demi perbaikan produk kuliner yang dibuatnya.  “Walaupun belum ada label yang menyertai kemasan produk aneka kripik singkong yang dibuat, saya berani adu rasa keunggulan kripik buatan saya,”ujar Rahimah yang mempunyai produk unggulan yang disukai pelanggannya di kantor-kantor pemerintahan, BUMN dan swasta.

Dalam kesempatan ini, Rahimah, mengajak kepada generasi muda untuk cepat ambil bagian dalam menekuni usaha sebagai minimal wirausaha pemula, usaha apapun itu. Tidak berleha-leha menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat.

Menurut Rahimah, belajar hidup mandiri utamanya dengan mencari nafkah sendiri adalah awal pembentukan jati diri yang harusnya ada pada setiap individu. “Sebab cepat atau lambat tuntutan kedewasaan dan kemandirian serta hidup mapan dengan nafkah yang memadai menjadi tanggung jawab sendiri,”ujar Rahimah.

Secara terpisah, Suherman, SE selaku Koordinator Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar yang juga Tenaga Ahli Pendamping Bidang Pemasaran dan Anton Juniardi, SE selaku Tenaga Ahli Pendamping Bidang Sumber Daya Manusia mengemukakan, di era pandemi Covid-19 yang hingga kini belum jelas berakhirnya kapan, harusnya para generasi muda hidup dan bersikap strategis dalam merangkai masa depan seperti apa yang ingin digapai.

“Kita prihatin generasi muda menghabiskan waktu, pikiran dan tenaganya untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya akan merugikan dirinya sendiri kelak,”ujar Suherman.

Harusnya, ujar Suherman, Strengths dan Weaknesses yang ada pada diri individu benar-benar harus dibedah sedalam mungkin untuk menemukan jawaban: Siapa aku? Untuk kemudian dibandingkan dengan Opportunities  dan Threats sebagai faktor eksternal.

“Dengan SWOT, kita dapat membedah diri sendiri untuk kemudian menemukan dan menyepakati langkah dan strategi seperti apa yang mau dilakukan untuk menggapai visi hidup dan kehidupan yang mau diraih,”ujar Anton Juniardi.  Tentu tidak dengan cara-cara menerabas yang akhirnya merugikan diri sendiri. Rahimah Hidayati, adalah sosok perempuan belia, yang patut menjadi contoh bagi generasi muda lainnya dalam menata hidup dan kehidupan dengan tidak tergantung seratus persen dari orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code