Pelatihan Budidaya Jamur Tiram Rumah Produksi RimaAih

KUBU RAYA-  Prospek dan peluang budidaya jamur sekarang ini sangat besar karena jamur sebagai jenis sayuran yang mulai banyak dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat, cita rasanya lezat, bergizi tinggi dan bisa digunakan sebagai makanan alternatif untuk pengobatan.

 Budidaya jamur menggunaan modal yang relatif kecil dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat. Teknologi tepat guna yang murah dan sederhana sehingga lapisan masyarakat pedesaan bisa melakukan budidaya jamur. Budidaya jamur fleksibel sehingga dapat dilakukan siapa saja, dimana saja, kapan saja dan tidak mengenal musim, dapat dijalankan dalam skala rumah tangga/kecil, menengah bahkan dengan teknologi modern. Budidaya jamur mempunyai waktu panen yang singkat 45 hari memetik hasil, tidak membutuhkan biaya pakan, obat-obatan, dan pupuk.

Jamur Tiram (Pleurotus sp), salah satu jamur yang digemari konsumen di Kalimantan Barat

Budidaya jamur tidak memerlukan lahan yang luas, memanfaatkan media limbah organik yang banyak tersedia, murah dan mudah didapat di sekitar kita sehingga menjadikan lingkungan bersih, indah dan sehat. Produk Jamur dapat dimanfaatkan untuk menambah gizi atau menu serta dapat menambah pendapatan keluarga. Kompos bekas media tanam dapat langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan dan untuk memelihara cacing.

Jika ada lahan pekarangan seukuran sekitar 100 m², maka setidaknya bisa menampung sekita 7.500 baglog (media tumbuh) jamur. Adapun jenis jamur yang dapat dikembangkan secara komersial diantaranya Jamur Merang (Volvariella volvaceae), Jamur Tiram ( Pleurotus sp ), Jamur Kuping (Auricularia polytricha), Jamur Shitake (Lentinula edodes), Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum).

Namun di Sentra Budidaya Jamur Rumah Produksi RimaAih Jamur, yang berada di Bukit Laet Indah, Kabupaten Kubu Raya, Jalan Trans Kalimantan, Kilometer 73 dari arah Pontianak menuju Simpang Ampar,  yang dikembangkan hanya jamur tiram putih, jamur tiram coklat dan jamur kuping.

Demikian dikemukakan Elisabeth Lilis, Narasumber dalam Pelatihan Budidaya Jamur sekaligus pengusaha dan pemilik Sentra Budidaya Jamur Rumah Produksi RimaAih Jamur, Minggu 23 Agustus 2020. Peserta pelatihan kali ini berjumlah 5 orang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sekadau dan Kabupaten Ketapang. Hadir pula Vincent J dari Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar selaku Tenaga Ahli Pendamping Bidang Pengembangan Jaringan Kerjasama dalam acara pembukaan Pelatihan Budidaya Jamur tersebut.

Dalam kesempatan itu Vincent J mengemukakan, Pelatihan Budidaya Jamur kali ini adalah kali pertama PLUT-KUMKM perlu hadir mengingat sejak Pandemi Covid-19 melanda Kalimantan Barat, hampir semua bidang usaha UMKM mengalami dampaknya. “Inisiatif menyelenggarakan pelatihan budidaya jamur yang tetap mengedepankan Protokol Covid-19 ini sesungguhnya diharapkan mampu memotivasi para wirausaha pemula dibidang budidaya jamur ini untuk berkiprah di daerah tempat tinggalnya masing-masing agar kebutuhan konsumen akan ketersediaan jamur dapat terpenuhi,”ujar Vincent.

Dikemukakan, sejak mulai trendnya jamur sebagai salah satu sayuran alternatif, dan bahkan diolah menjadi aneka penganan yang cita rasanya lezat dan bergizi tinggi ini mampu mewarnai kuliner modern dengan menghadirkannya dalam menu jamuan keluarga dan jamuan khusus lainnya.

Peserta Pelatihan Budidaya Jamur langsung praktek pembuatan media tanam jamur

Menurut Lilis, panggilan akrabnya, peserta dalam pelatihan dua hari tersebut dirancang agar para peserta bisa belajar sekaligus praktek budidaya jamur tiram secara bertahap, sehingga peserta bisa membudidayakan jamur tiram dengan baik dan benar. “Pelatihan ini diselenggarakan karena besarnya respon peserta atas kinerja Rumah Produksi RimaAih Jamur melalui media sosial,”ujar Lilis yang mengakui akhirnya peserta menjadi sulit hadir karena salah satunya faktor Pandemi Covid-19.

Dikemukakan Lilis, pihaknya tidak saja memproduksi jamur di sektor hulu tetapi juga memberi contoh bagaimana proses hilir dari produk jamur tersebut diolah menjadi aneka jenis kuliner yang menggugah selera.

Rumah Produksi RimaAih Jamur lebih fokus mengembangkan jamur tiram putih, jamur tiram coklat dan jamur kuping. Jamur tiram (Pleurotus sp) banyak mengandung protein nabati 10 - 30%, dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai campuran sup, salad, pepes atau diolah menjadi keripik. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mudah dikembangkan, media tumbuh dan bahan spora mudah didapat, dan harga jual cukup tinggi.

Jamur Kuping (Auricularia polytricha), memiliki bentuk tubuh yang melebar seperti bentuk daun telinga manusia. Jenis-jenis jamur kuping yang banyak dibudidayakan diantaranya jamur kuping hitam, jamur kuping merah, jamur kuping agar. Jamur kuping hitam bermanfaat untuk obat sakit jantung, menurunkan kolesterol, juga sebagai anti-pendarahan.

Adapun teknologi budidaya jamur terdiri dari persiapan alat dan bahan diantaranya ruang persiapan, ruang inokulasi dan ruang inkubasi serta ruang penanaman.

Risoles adalah salah satu pengananan yang bahan utamanya jamur

Pemanenan jamur dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya & mempermudah pemasaran. Lebih baik tidak menggunakan kukutangan, tetapi menggunakan pisau yang telah disterilkan. Tinggalkan/sisakan sedikit pangkal buah jamur yang di panen. Media tidak boleh terangkat.

Merespon besarnya animo masyarakat untuk mengenal budidaya jamur, Lilis mengemukakan, ke depan pihaknya selaku pemilik Rumah Produksi RimaAih Jamur akan membuat paket-paket pelatihan diantaranya paket budidaya jamur, paket pembibitan jamur, paket pelatihan lengkap dan paket agrowisata jamur.

“Secara spesifik kita pun akan mempersiapkan kelas khusus perempuan agar memanfaatkan waktu, lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah sekecil apapun, pasti masih punya ruang untuk menempatkan baglog, sehingga bisa merasakan, menikmati panen jamur milik sendiri untuk keperluan konsumsi di rumah sendiri,”ujar Lilis yang bernaung di Lembaga Komunitas UMKM Talino Khatulistiwa.

Peserta mendapat pemaparan materi di alam terbuka sehingga interaksi antar peserta lebih mudah cair

Merespon rencana ke depan Rumah Produksi RimaAih Jamur dan peserta pelatihan yang memerlukan dampingan pasca pelatihan, Suherman selaku Koordinator Tenaga Ahli Pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar secara terpisah mengemukakan pihaknya senantiasa mengikuti ritme pertumbuhan dan perkembangan pengusaha dampingan untuk maju. “Tidak punya ide, akan kita beri ide. Tidak punya rencana, kita bantu membuatkan rencana secara spesifik. Perlu pengembangan jaringan dan dukungan pendanaan, akan kita upayakan jalan keluarnya,”ujar Suherman yang menekankan pentingnya legalitas usaha bagi UMKM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code