Catatan Kunjungan Kerja: Heritage Dragon Kiln Keramik San Keuw Jong

SINGKAWANG- Banyak sebutan Kota Singkawang yang memang diakui sudah mendunia, Khek (orang Hakka-red) menyebutnya dalam Bahasa Mandarin, San Keuw Jong, dalam huruf Hanzi ditulis seperti ini 山口洋, atau dalam tulisan kanji Pinyin, Shānkou Yáng.

Kota San Keuw Jong yang dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng atau Klenteng karena banyak terdapat tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia ini. Dijuluki Kota Amoy karena terkenal kecantikan  Gadis Tionghoa ini, luasnya 504 km² berpenduduk sekitar 300.000 jiwa.

Singkawang juga terkenal dengan keramik Sakkok. Tahun 1933 berdirilah perusahaan keramik pertama Yong Tong Hwat atau Dinamis yang membuat keramik untuk keperluan sehari-hari seperti mangkok, piring dan tempayan serta guci. Kemudian menyusul perusahaan keramik  Tajau Mas  atau Ju Hua tahun 1936,   Sam Ho atau Tri Murni di tahun 1940. Di tahun 1964 berdirilah perusahaan keramik Semangat Baru tahun 1964 dan di tahun 1980 berdirilah Sinar Terang disusul pendirian Borneo Lentera Prima (masih berproduksi dengan tungku naga) yang merupakan anak usaha dari Sinar Terang di tahun 1998. Apa perkembangan keramik Sakkok selanjutnya ?

Ini adalah catatan perjalanan Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar yang mengutus Suherman selaku Tenaga Ahli (TA) Bidang Pemasaran, Anton Juniardi selaku TA Bidang SDM, Abdullah Husaini selaku TA Bidang Kelembagaan, Rommy Hermanto selaku TA Bidang Informatika Teknologi dan Vincent J selaku TA Bidang Pengembangan Jaringan Kerjasama, saat kunjungan kerja, 12 – 14 Agustus 2020 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Tulisan kali ini mengangkat kondisi terkini Dragon kiln, tungku pembakaran keramik yang konstruksinya menyerupai sosok naga,  yang merupakan salah satu dari kerajinan tangan tradisi Cina yang masih dapat dilihat hingga kini di Kota Singkawang. Diksi dragon memang sudah ada tercatat setidaknya sejak abad ke-13. Dragon berasal dari kata Bahasa Latin, Draconem, yang berarti ular besar. Di Indonesia, penyebutan naga ada dalam Bahasa Sanskerta. Naga diartikan sebagai makhluk yang berbentuk ular besar.

Konstruksi pembuatan tungku keramik berbentuk naga ini menjadi daya tarik tersendiri sebagai obyek wisata sehingga Pemerintah Kota Singkawang melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga meregistrasi (Nomor: 6172/S/0034) sebagai Cagar Budaya Heritage Dragon Kiln Keramik Borneo, milik Ajung, sesuai UU Nomor 11 Tahun 2010, sebagai salah satu Tungku Naga, alat dan sarana dalam proses produksi tempayan keramik dan sejenisnya sejak Tahun 1937.

Kerajinan keramik, pertama kali diperkenalkan oleh Liaw A Tjiu, seorang imigran dari tanah Tingkok. Namun Kota Singkawang yang dihuni lebih 70 persen etnis Tionghoa ini menyisakan sedikit kepedihan karena salah satu tungku naga yang tua di usaha kerajinan keramik Sinar Terang, yang ada di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan mengalami musibah terendam banjir, sehingga beberapa tahun belakangan ini tungku tersebut tidak produksi lagi.

Meskipun banjirnya sesaat namun perlahan tapi pasti terjadi kerusakan pada konstruksi tunggu naga dimaksud belum lagi faktor kerugian yang disebabkan rusaknya bahan keramik yang siap bakar saat banjir datang tiba-tiba.

Pembuatan keramik bermotif ukiran naga dan bisa dipesan sesuai selera di Singkawang ini berada di wilayah Sakkok, dan telah dilakukan secara turun temurun. Keramik dari Sakkok memiliki  keunikan tersendiri dalam dunia keramik di Indonesia karena para pengrajin menggunakan teknik pembuatan dan kualitas bahan keramik yang juga hampir sama dengan teknik dan bahan yang ada di Cina.

Kesamaan motif keramik Sakkok ini dapat dikatakan sebagai  replika keramik buatan Cina kuno terutama keramik pada masa Dinasti Ming (1368 – 1644) yang memiliki corak naga, glasir yang indah dan cenderung berwarna terang (biru).

Pewarnaan tanah liat atau teknik glasir merupakan material yang terdiri dari beberapa bahan tanah atau batuan silikat dimana bahan-bahan tersebut selama proses pembakaran akan melebur dan membentuk lapisan tipis seperti gelas yang melekat menjadi satu pada permukaan badan keramik. Teknik glasir merupakan kombinasi yang seimbang dari satu atau lebih oksida basa (Flux), oksida asam (Silika), dan oksida netral (Alumina). Ketiga bahan tersebut merupakan bahan utama pembentuk teknik glasir pada keramik yang dapat disusun dengan berbagai komposisi tentu saja dengan memperhatikan aspek suhu kematangan glasir yang dikehendaki si pengrajin.

Sebenarnya dalam pembuatan glasir secara sederhana diperlukan tiga bahan utama, yaitu  silika yang berfungsi sebagai unsur penggelas atau pembentuk kaca. Silika (SiO2) juga disebut Flint atau kwarsa yang akan membentuk lapisan gelas bila mencair dan kemudian membeku. Silika murni berbentuk menyerupai kristal, dimana apabila berdiri sendiri titik leburnya sangat tinggi antara yaitu 16100 C - 17100 C.

Unsur kedua alumina yang berfungsi sebagai unsur pengeras Al2O3 yang digunakan untuk menambah kekentalan lapisan glasir, membantu membentuk lapisan glasir yang lebih kuat dan keras serta memberikan kestabilan pada benda keramik. Yang membedakan glasir dengan kaca/gelas adalah kandungan aluminanya yang tinggi.

Unsur ketiga flux yang berfungsi sebagai unsur pelebur atau peleleh.  Digunakan untuk menurunkan suhu lebur bahan-bahan glasir. Flux dalam bentuk oksida atau karbonat yang sering dipakai adalah timbal, boraks, sodium/natrium, potassium/kalium, lithium, kalsium, magnesium, barium, strontium, bersama-sama dengan oksida logam seperti  besi, tembaga, kobalt, mangaan, krom, nikel, tin, seng, dan titanium akan memberikan warna pada glasir, juga dengan bahan yang mengandung lebih sedikit oksida seperti  antimoni, vanadium, selenium, emas, kadmium, uranium.

Namun dalam perjalanan waktu, selera, trend keramik modern dan tuntutan pasar, maka keramik Sakkok secara umum tidak lagi menampakkan konsistensi kualitas produk keramik yang menggunakan glasir. “Kami cenderung memproduksi keramik yang sesuai dengan permintaan pasar lokal saja tanpa ada unsur ukir dan glasir yang sangat rumit,”ujar pengrajin Apo yang sudah lebih 20 tahun bekerja membuat gerabah keramik.

Ungkapan senada diungkapkan Ajung selaku pemilik Heritage Dragon Kiln Borneo Keramik bahwa kesulitan utama pada pembuatan keramik bermotif naga karena pengrajin yang mempunyai keahlian membuat patung naga dari bahan tanah liat ini sudah semakin terbatas orangnya.

Kini di tungku naga milik Ajung yang sudah menjadi Cagar Budaya Heritage Dragon Kiln Keramik Borneo ini masih menyisakan pekerja yang hanya mampu membuat ukir dengan cara cetak pada media gib.

Sebut saja Rabiudin, yang sudah menekuni usaha seni relief naga di Cagar Budaya Heritage Dragon Kiln Keramik Borneo selama 20 tahun. Setiap hari Rabiudin bisa menyelesaikan sekitar 20 buah keramik ukuran kecil. Sedangkan yang membentu badan tempayannya adalah Aci, yang sudah 30 tahun fokus bekerja disektor kerajinan tanah liat ini.

Kualitas keramik yang dihasilkan di Sakkok ini sangat tergantung dengan penggunaan dragon kiln atau tungku naga. Istilah naga digunakan untuk menyebut tungku ini karena merujuk kepada bentuk tungku yang memanjang sehingga diibaratkan seperti naga.

Konon ceritanya, tungku naga berawal dari penggunaan goa-goa disekitar pengunungan sebagai ruang pembakaran oleh masyarakat di Guangdong, Cina Selatan. Dari hal tersebut muncullah insiprasi pembuatan tungku naga. Dengan bentuk  memanjang sekitar 27 – 41 meter, lebar depan 126 – 133 cm, lebar tengah 180 – 192 cm, lebar belakang  151 – 160 cm dan tinggi tungku rata-rata 120  - 130 cm.

Tungku naga dapat memproduksi suhu panas hingga 1250°. Di bagian belakang tungku  terdapat cerobong asap sementara di bagian depan terdapat pintu yang digunakan untuk memasukkan kayu sebagai sumber panas pembakaran keramik. Di sisi kiri dan kanan badan tungku terdapat lubang-lubang kecil berjarak antar jendela 1,5 – 2 m untuk memasukkan kayu bakar. Bentuk tungku yang memanjang ke belakang dengan posisi tanah yang tinggi dimaksudkan agar keramik mendapatkan pemanasan merata.

Bahan baku utama untuk membuat keramik adalah kaolin (Kao-ling dalam bahasa Tionghoa). Kaolin adalah semacam tanah liat berwarna putih keabu-abuan/kelabu dengan komposisi hidrous alumunium silikat dengan mineral penyerta.

Tahap awal pembuatan keramik Sakkok adalah pembersihan kaolin dari kotoran, kemudian bongkahan besar kaolin dipotong menjadi kecil-kecil agar lembut, lemas dan mudah dibentuk. Kaolin kemudian dicampur dengan tanah liat dan direndam dengan sedikit air selama beberapa saat. Selanjutnya campuran tanah liat tadi diinjak-injak dengan dicampur air secukupnya untuk menghasilkan tekstur kaolin yang lentur gampang dibentuk. Selanjutnya tanah ditutup dengan plastic dan didiamkan sejenak kemudian dibentuk menjadi gumpalan bulat sesuai dengan ukuran keramik yang diinginkan.

Rabiudin dan Aci menuturkan proses selanjutnya adalah pembentukan keramik yang diinginkan. Pembentukan dilakukan diatas alat yang disebut nai cha (roda putar). Nai cha memiliki diameter 80 – 90 cm dan terbuat dari semen dengan rangka besi didalamnya. Dibagian tengah nai cha terdapat sebuah lingkaran yang lebih kecil sebagai lindasan. Gumpalan tanah akan diletakkan diatasnya dan kemudian roda diputar dengan tangan dan tanah siap dibentuk dengan sesekali diperciki air supaya tidak mengeras. Proses ini dilakukan dalam waktu 5 – 10 menit disesuaikan dengan ukuran keramik yang diinginkan. Setelah diperciki air, keramik dilap dengan kain basah. Agar permukaan tidak bergelombang dan pipih, sambal terus diputar, tanah dibentuk dengan kayu kecil yang disebut su dei kut dan kiam chi). Setelah proses pembentukan selesai, keramik dilepaskan dari landasan dengan menggunakan benang untuk selanjutnya dikeringkan. “Terkadang dalam proses pembentukan, kami sebagai pengrajin langsung membentuk keramik sambil memberikan ukiran yang sudah dibuat dari mal gib yang sudah dipersiapkan,”ujar Rabiudin.

Selanjutnya keramik dikeringkan ditempat teduh untuk menghindari keretakan keramik. Pemberian motif sendiri dilakukan dengan beberapa pilihan cara seperti cetak, cap dan ukir.  Setelah dikeringkan, langkah selanjutnya adalah penglasiran. Penglasiran dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan warna  yang cerah dan kesan bening. Biasanya bahan glasir terbuat dari bubuk kerang, abu merang, kaolin, tanah merah, pasir laut serta baterai bekas. Untuk mendapatkan warna yang tepat dibutuhkan kemampuan pengrajin untuk mencampur adonan dengan komposisi yang tepat. Penglasiran dilakukan dengan cara dicelup untuk keramik berukuran kecil dan disiram untuk keramik berukuran besar.

Setelah poses pengeringan selesai, keramik dibakar di tungku naga. Keramik yang akan dibakar ditempatkan/disusun pada badan tungku yang memanjang. Penyusunan keramik di dalam tungku disusun berdasarkan daya tahan terhadap panas. Penggunaan tungku naga yang berukuran besar menjadikan ribuan keramik dapat dibakar sekaligus. Untuk memasukkan keramik dapat dilakukan melalui pintu yang berada disisi badan tungku naga. Setelah keramik dimasukkan maka semua pintu di sisi tungku naga dtutup. Ketelitian dan kemahiran dalam membakar keramik diperlukan untuk mendapatkan hasil yang baik. Proses pembakaran ini merupakan faktor yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya pembentukan keramik.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, para pengrajin keramik di Sakkok menggunakan kayu karet yang telah dibelah dan dijemur. Kayu karet merupakan bahan bakar yang paling tepat karena memiliki panas yang stabil.

Pada paruh pertama proses pembakaran api harus tetap dijaga suhunya. Selanjutnya jendela mulai dari bagian depan satu persatu dibuka untuk dimasukkan api. Jika api berubah putih maka keramik sudah matang. Demikian terus secara bergantian. Proses pembakaran diperlukan selama sehari semalam dengan ketelitian pekerja dalam mengatur suhu. Pengaturan suhu dilakukan dengan mengandalkan pengalaman para pekerja. Dalam proses pembakaran ini, ketelitian diperlukan agar keramik tidak pecah saat pembakaran.  Usai dibakar, keramik akan didinginkan. Proses ini terkadang menghabiskan waktu selama satu hari. Dalam proses pendinginan, pintu dan jendela dibuka. Setelah keramik dingin, keramik siap untuk dipasarkan.

Pembuatan keramik tidak dapat dilepaskan pada kepatuhan tradisi sesuai yang diwariskan dari leluhur. Para pengrajin memiliki trik-trik khusus yan digunakan untuk membentuk, mengukir bahkan memilih tanaman untuk pewarnaan. Penggunaaan corak-corak hiasan juga disesuaikan dengan mitologi yang diyakini. Motif yang paling banyak digunakan pada keramik Sakkok adalah motif naga, burung dan teratai. Di dalam motif sendiri terdapat lambang dan harapan yang diinginkan seperti burung krisan (bunga musim gugur) yang melambangkan persahabatan, keramahan dan kesabaran. Motif  bunga teratai melambangkan kesucian, kesuburan dan kesempurnaan sedangkan naga melambangkan laki-laki, raja dan perlindungan. Di antara semua motif, motif naga paling sering digunakan pada keramik Sakkok. Selain dalam hal penggunaan motif, tradisi Cina yang kuat dalam pembuatan keramik dapat dilihat dari ritual yang dilakukan. Sebagaimana tradisi di Cina, doa-doa sesuai kepercayaan serta ritual selalu dilakukan pemilik tungku naga.

Masa depan keramik Sakkok yang sudah mendunia namun akhir-akhir ini meredup harusnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Singkawang, karena asset yang sudah dicatat Pemerintah Kota Singkawang melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga dalam registrasi (Nomor: 6172/S/0034) sebagai Cagar Budaya Heritage Dragon Kiln Keramik Borneo, sesuai UU Nomor 11 Tahun 2010.

Beberapa catatan Suherman selaku Koordinator Tim Tenaga Ahli Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar, mengemukakan keramik Sakkok harus tetap eksis menjadi ciri khas Kota Singkawang sebagai salah satu destinasi wisata. Oleh karena itu kepada pengrajin diminta kreatif menangkap peluang pasar yang menuntut kreativitas seni ukir relief yang mengakomodir motif-motif modern yang sedang disukai dan  tidak hanya sekedar membuat tempayan.

Sedangkan kepada Pemerintah Kota Singkawang, diharapkan memberi ruang dialog yang lebih komprehensif agar muncul generasi-generasi muda yang mencintai karya seni keramik Sakkok dan menjadikannya sebagai ajang uji kreativitas karya seni keramik modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code