Catatan Kunjungan Kerja: Kelompok Tani Tengkawang Layar Rumah Produksi Minyak Tengkawang Dusun Melayang

BENGKAYANG- Tengkawang, Dipterocarpaceae, adalah tumbuhan khas Kalimantan. Buahnya bermanfaat untuk dijadikan minyak yang turunannya bisa menjadi  mentega, bahan pembuat roti, pembuat es krim, bahan dasar kosmetik dan bahkan obat herbal lainnya.

Mentega/lemak tengkawang adalah salah satu minyak nabati terbaik yang diperoleh dari buah pohon Shorea Stenoptera. Mentega tengkawang kaya akan manfaat dan telah lama digunakan oleh masyarakat dayak sebagai campuran makanan dan untuk pengobatan tradisonal.

Mentega tengkawang sangat unik karena mempunyai kandungan Asam Steatrat (stearic acid) dan Asam Oleat (Oleic Acid) yang tinggi sehingga sangat baik untuk memperbaiki fleksibilitas dan elastisitas kulit, mencegah timbulnya kerutan, mencegah degenerasi sel-sel kulit dan melindungi kulit dari sinar UV-A dan UV-B. Lemak Tengkawang juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki dan melembabkan rambut yang kering.

Persoalan yang muncul kepermukaan adalah semakin menurunnya nilai ekonomis tengkawang sehingga terjadi penurunan minat petani untuk membudidayakan tengkawang. Bahkan lebih menggiurkan menjual kayu olahan daripada mengumpulkan buah tengkawang yang merupakan tanaman keras yang panennya setahun sekali.

Namun ditengah tantangan dan ancaman ekonomis komoditi tengkawang ini, masih ada kearifan lokal yang konsisten melestarikan kawasan hutan adat yang dominan ditumbuhi tengkawang dan sekaligus melakukan pengolahan minyak tengkawang untuk dijadikan bahan olahan kuliner dan kecantikan serta herbal tradisional.

Ini adalah catatan perjalanan Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar yang mengutus Suherman selaku Tenaga Ahli (TA) Bidang Pemasaran, Anton Juniardi selaku TA Bidang SDM, Abdullah Husaini selaku TA Bidang Kelembagaan, Rommy Hermanto selaku TA Bidang Informatika Teknologi dan Vincent J selaku TA Bidang Pengembangan Jaringan Kerjasama, saat kunjungan kerja, 12 – 14 Agustus 2020 di Dusun Melayang, Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, yang memproduksi minyak tengkawang dan turunan lainnya berbasis kuliner dan obat herbal tradisional.

Sebagaimana diketahui Tengkawang masuk dalam Famili Dipterocarpaceae, dengan 12 jenisnya dilindungi PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Jenis tengkawang tersebut adalah Shorea stenopten, Shorea stenoptera, Shorea gysberstiana, Shorea pinanga, Shorea compressa, Shorea semiris, Shorea martiana, Shorea mexistopteryx, Shorea beccariana, Shorea micrantha, Shorea palembanica, Shorea lepidota, dan Shorea singkawang.

Tengkawang merupakan salah satu flora yang tumbuh di hutan Kalimantan Barat dan telah dibudidayakan sejak seratus lima tahun lalu. Masuk dalam genus Shorea atau meranti, membuat pohon ini mempunyai nilai ekonomis yang baik, yakni penghasil minyak nabati.

Salah satu meranti yang merupakan tanaman endemik Kalimantan Barat adalah meranti merah (Shorea stenoptera). Dalam bahasa setempat disebut Tengkawang Tungkul. Dalam Bahasa Inggris dikenal dengan illipe nut atau Borneo tallow nut. Biji meranti merah diolah untuk menghasilkan minyak nabati. Turunannya juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan makanan, cokelat, pelumas, obat, lilin, dan kosmetik.

Hutan Adat

Bagi masyarakat Dayak, tengkawang adalah pohon kehidupan. Bahkan, karena manfaatnya yang penting pohon ini diwariskan kepada keturunannya. Jika sudah tua, batangnya digunakan untuk membuat rumah.

Seiring dengan munculnya sentimen pada minyak sawit, para pihak yang peduli dengan lingkungan dan berpihak kepada kearifan lokal, mulai menggiatkan penggunaan minyak tengkawang.

Bahkan Pemerintah Kabupaten Bengkayang telah berhasil memfasilitasi masyarakat hukum adat Kampung Dusun Melayang dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor: SK.1300/MENLHK-PSKL/PKTHA/PS.1/3/2018 tentang Penetapan Hutan Adat Seluas 100 Hektar di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, 28 Maret 2018.

Menurut Damianus Nadu, 59 tahun,  selaku Ketua Kelompok Tani Tengkawang Layar, pihaknya konsisten ingin menjadikan tengkawang sebagai pohon kehidupan yang sekaligus berfungsi memperkaya hutan adat karena pohon tengkawang yang utamanya berada di Kecamatan Seluas dan Kecamatan Jagoi difungsikan sebagai penyangga ketahanan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Bengkayang. “Jadi sumbangsih kami sebagai masyarakat adat adalah menjaga ekosistem kawasan hutan heterogen yang dikukuhkan dengan Hutan Adat agar keseimbangan ekosistem di Kabupaten Bengkayang khususnya dan daerah aliran sungai terjaga kelestariannya,”ujar Nadu.

Sebagaimana diketahui, berhasilnya Masyarakat Adat Kampung Dusun Melayang untuk mendapatkan pengakuan Hutan Adat Seluas 100 Hektar di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang adalah berkat dukungan banyak pihak diantaranya Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional, selain utamanya Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang cq. Dinas Kehutanan dan Perkebunan.

Tercatat Juni 2016 pihak Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura dan LPS-AIR memberi bantuan peralatan press pembuat minyak buah Tengkawang dan pembuatan tepung buah Tengkawang kepada Kelompok Tani Tengkawang Layar agar masyarakat dapat meningkatkan produk, produksi dan produktivitas turunan tengkawang tersebut.

Di Kalimantan Barat sempat tercatat ada 4 perusahaan yang pernah melakukan ekspor buah tengkawang. Dua diantaranya mengolah buah tengkawang menjadi minyak tengkawang dengan kapasitas 12.750 ton per tahun.

Namun proses buah tengkawang ke luar negeri ini seringkali memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga berakibat menurunnya mutu biji tengkawang. Pengolahan biji tengkawang menjadi minyak merupakan jalan keluar terhadap penurunan kualitas buah tengkawang.

Adapun proses pembuatan minyak tengkawang sebagaimana dijelaskan Damianus Nadu, biji tengkawang yang sudah dibersihkan, sebelum diekstraksi diambil dulu lemaknya dengan cara pengepresan. Dari hasil pengepresan ini disamping minyak tengkawang, juga dihasilkan bungkil tengkawang yang masih mengandung kadar minyak 4 – 5 persen.

Terancam Punah

Secara tradisional, minyak tengkawang digunakan untuk memasak, sebagai penyedap masakan dan ramuan obat-obatan. Dalam dunia industri, minyak tengkawang digunakan sebagai bahan pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan kosmetika, juga dipakai dalam pembuatan lilin, sabun, margarin, pelumas dan sebagainya. Minyak tengkawang banyak diperdagangkan dengan nama Green Butter. Pemanfaatan tengkawang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang diperoleh dari buah tengkawang. Minyak tengkawang (green butter) biasa diekspor ke mancanegara dan digunakan sebagai pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan bahan kosmetik.

Saat ini keberadaan pohon tengkawang terancam punah. Jumlah pohon sudah jauh berkurang penyebab berkurangnya pohon tengkawang akibat deforestasi dan berubahnya fungsi lahan. Tengkawang tungkul termasuk dalam kategori yang sedang menghadapi risiko sangat tinggi terhadap kepunahan di alam terkategori endangered menurut ketentuan International Union for Conservation of Nature (IUCN, 2013) atau dalam bahasa Indonesia, Serikat Internasional Untuk Pelestarian Alam atau nama lainnya World Conservation Union.

Maraknya pembalakan hutan yang berimbas pada penebangan jenis pohon yang memiliki nilai ekonomi tinggi, termasuk pohon tengkawang, membuat pohon ini kini semakin langka. Selain itu, maraknya pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan karet, memperparah keberadaan jenis tumbuhan endemik di Kalimantan Barat ini.

Biro Pusat Statistik mencatat data ekspor terakhir minyak tengkawang 1990-an, ekspor tengkawang mencapai 3519.2 ton dengan nilai US$ 7.707.800. Tahun 2001 Indonesia mengekspor 1.492,9 ton minyak tengkawang senilai US $ 894.000.

Saat  Pandemi Covid-19 ini, ujar  Damianus Nadu, yang tercatat sebagai peserta Seminar Online Konsultasi Publik Revisi Standar Sertifikasi Pengelolaan Hutan Lestari Indonesia Forestry Certification Cooperation, 15 Juli 2020, mengemukakan, kelompok perempuan sudah dilatih untuk membuat kue, cokelat dan eskrim berbasis minyak tengkawang dan turunannya.

“Namun pasarnya terganggu karena kita tidak bisa produksi,”ujar Nadu garu-garu kepala pasrah sembari berharap agar badai segera berlalu.

Dalam proses produksi minyak tengkawang ini, ujar Nadu, ampas atau bungkil tengkawang pun dimanfaatkan sebagai pakan kambing dan babi milik anggota kelompok tani. Bungkil tengkawang merupakan hasil ekstraksi lemak biji.

Menurut Nadu, panen tengkawang yang ada di kawasan hutan adat Desa Sahan, tak dilakukan serampangan. Ada prosesi awal adat yang dilakukan berikut pembagian kerjanya. Tetua adat menentukan kapan panen, dan siapa saja yang terlibat. Tidak terkecuali perempuan dan anak-anak. Prosesi ini juga mengatur pembagian hasil, merata dan adil.

Dahulu kala, nenek moyang mengolah biji tengkawang sebagai minyak goreng, minyak lampu, juga ditujukan untuk alat pengobatan tradisional. Proses ekstraksi dilakukan tersembunyi dan jauh dari permukiman karena dianggap kegiatan sakral.

Inovasi

Sehubungan dengan pemanfaatan minyak tengkawang di Dusun Melayang, Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat,  beberapa catatan hasil kunjungan Tim Tenaga Ahli Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar, sebagaimana dikemukakan Suherman selaku Koordinator Tenaga Ahli mengemukakan, kegiatan budidaya komoditi tengkawang yang menjadi tekad komunitas adat patut menjadi contoh untuk konsisten melestarikan dan sekaligus melakukan pengayaan kawasan hutan yang ada agar keanekaragaman hayati tetap terjaga.

Pembuatan minyak tengkawang berikut turunannya yang sudah disesuaikan untuk tujuan kuliner, pengobatan dan kosmetika ini hendaknya disertai dengan pendampingan dari ahli yang benar dan tepat sehingga setiap perkembangan produk, produksi dan produktivitas termonitor dengan jelas dan terukur mutunya.

Menurut Suherman, pasar lokal, regional dan nasional serta internasional sesungguhnya sudah menunggu dan tidak sabar ingin mengetahui inovasi demi inovasi tengkawang dan turunannya karena ada keprihatinan bersama terhadap musnahnya komoditi tengkawang yang menjadi ancaman kearifan lokal dan keaneragaman hayati.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu sehingga kegiatan ekonomi kreatif dalam skala ekonomi kerakyatan perempuan di Dusun Melayang, Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, segera menggeliat kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code