Catatan Kunjungan Kerja: Kebun Lada Organik Dawar Mandiri Farm “Lada Max”

BENGKAYANG- Jamur patogen Phytophthora capsici, yang menyerang tanaman lada (Piper nigrum L) mempunyai tingkatan virulensi yang bervariasi. Ujicoba yang dilakukan di kebun lada organik Dawar Mandiri Farm terhadap Pipper Colubrinum sebagai batang bawah masih terus diamati khususnya terhadap ketahanan jamur pathogen, produktivitas lada dan kemungkinan lain yang belum terdeteksi.

Penyambungan menggunakan Pipper Colubrinum, sebagai batang bawah pernah dilakukan di India, Brasil, dan Malaysia. Hasilnya, setelah ditanam di lapangan tidak ada tanaman hasil penyambungan yang terserang busuk pangkal batang (BPB), namun setelah tahun keempat, muncul ketidaksesuaian penyambungan. Dan ada kecenderungan Pipper Colubrinum yang berwarna merah muda dapat bertahan lebih lama, tetapi produktivitasnya rendah.

Lada Max sudah masuk ke pasar modern

Mencermati pertumbuhan dan perkembangan lada dan uji coba penyambungan batang bawah dengan menggunakan Pipper Colubrinum yang dilakukan di Kebun Lada Organik Dawar Mandiri Farm yang memproduksi bubuk Lada Max ini menjadi sangat menarik, setelah para peneliti penyakit tanaman lada lintar negara terus berjibaku untuk menaklukkan jamur patogen Phytophthora capsici, yang menjadi momok para petani lada, termasuk di Kabupaten Bengkayang.

Ini adalah catatan perjalanan Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar yang mengutus Suherman selaku Tenaga Ahli (TA) Bidang Pemasaran, Anton Juniardi selaku TA Bidang SDM, Abdullah Husaini selaku TA Bidang Kelembagaan, Rommy Hermanto selaku TA Bidang Informatika Teknologi dan Vincent J selaku TA Bidang Pengembangan Jaringan Kerjasama, saat kunjungan kerja, 12 – 14 Agustus 2020 di Kebun Lada Organik Dawar Mandiri Farm, yang memproduksi bubuk lada dengan merk dagang Lada Max, di Dusun Dawar, Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Adalah Koriadi, 37 tahun, pria kelahiran Dusun Dawar, setelah menyandang gelar Sarjana Teknik Industri dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta, terpanggil untuk membangun desa dengan menekuni komoditi tanaman lada.

Di Dusun Dawar ini, Koriadi memiliki lahan lada yang sudah tertanam seluas 2 hektar. Usia tanaman lada di atas 3 tahun produksi bisa mencapai 2 – 3 ton per tahun. Sedangkan 2 hektar lainnya dalam proses perluasan. Usia tanaman ladanya bervariasi sesuai ketersediaan bibit lada.

Adapun core value Lada Max adalah kekeluargaan: membangun komunikasi yang baik dengan tim kerja dan mitra kerja; Kejujuran: terbuka terhadap kritikan dan bertanggungjawab terhadap kegiatan yang dikerjakan; Kualitas: Mengutamakan standar yang hyginies pada proses bahan baku yang berkualitas dan bebas kotoran, menggunakan alat pelindung diri, tidak boleh membuang sampah sembarangan dari hasil kegiatan produksi.

Perlahan tapi pasti usaha yang berbungkus idealisme orang muda yang ingin produk ladanya bebas unsur-unsur kimiawi atau terkategori organik inilah yang dirintisnya sejak 10 tahun lalu. “Idealisme saya bagaimana produk hulu dan produk hilir dari lada yang saya produksi ini benar-benar konsisten dijalur pengolaan secara organik,”ujar Kori, panggilan akrabnya yang saat menempuh pendidikan SMP harus berjalan kaki sejauh 18 kilometer dari Dusun Dawar tempat tinggalnya menuju Sanggau Ledo.

Tanaman lada (Piper nigrum L) yang tumbuh subur di Kebun Dawar Mandiri Farm, di Dusun Dawar, Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang

Meskipun baru memiliki lahan lada yang sudah tertanam seluas 2 hektar, Kori mulai merangkul para petani lada yang ada di kampungnya untuk kemudian mengikuti cara-cara pemeliharaan tanaman lada secara alami. “Awalnya memang sulit, tetapi akhirnya mereka mulai paham bahwa tujuan akhir dari ketaat-asasan dalam pengelolaan lada ini adalah kepercayaan pasar,”ujar Kori yang sudah mengantongi Sertifikasi Halal untuk produksi bubuk lada Lada Max.

Sistem sambung Pipper Colubrinum yang akrab disebut Melada ini asal tanamannya dari endemik Amazon, sebagai batang bawah yang disambungkan dengan lada Piper nigrum L. “Sebagai petani kita selalu bereksperimen bagaimana menghadapi masalah dilapangan, karena yang kita kejar adalah produk, produksi dan produktivitas yang menenuhi harapan pasar,”ujar Kori yang terobsesi bisa langsung ekspor lada.

Indikasi Geografis Varietas Bengkayang Pepper

Disadarinya bahwa pengembangan varietas tahan penyakit tanaman lada harus memperhatikan asal gen yang digunakan agar hasil persilangan memiliki ketahanan yang lebih baik, lebih lama, dengan produktivitas dan mutu hasil yang tinggi.

Oleh karena itu, ujar Koriadi, pihaknya sedang mempersiapkan Indikasi Geografis Varietas Bengkayang Pepper, atau apalah namanya nanti, yang sesuai dengan Pasal 6 ayat (3) Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2007 tentang Indikasi Geografis. “Kita sedang mempersiapkan dokumen-dokumen terkait pengusulan untuk mendapatkan Indikasi Geografis Varietas Lada Bengkayang, kepada Sub Direktorat Indikasi Geografis pada Kementerian Hukum dan HAM,”ujar Kori yang tamatan SMAN 1 Sanggau Ledo.

Sebagaimana diketahui, proses untuk mendapatkan Indikasi Geografis itu diawali dengan memuat Nama Indikasi-Geografis yang dimohonkan pendaftarannya;  Nama barang yang akan dilindungi Indikasi-Geografis; Uraian karakteristik dan kualitas yang membedakan barang tertentu dengan barang lain yang memiliki katagori sama dan menjelaskan tentang hubungannya dengan daerah tempat barang tersebut dihasilkan;  Uraian mengenai pengaruh lingkungan geografis dan alam serta faktor manusia terhadap kualitas atau karakteristik barang tersebut;  Uraian tentang batas-batas wilayah dan /atau peta daerah yang dilindungi oleh Indikasi Geografis; Uraian mengenai sejarah dan tradisi yang berhubungan dengan pemakaian Indikasi Geografis untuk menandai barang yang dihasilkan didaerah tersebut termasuk pengakuan dari masyarakat mengenai Indikasi Geografis tersebut; Uraian yang menjelaskan tentang proses produksi, proses pengolahan dan proses pembuatan yang digunakan sehingga memungkinkan setiap produsen di daerah tersebut dapat memproduksi, mengolah atau membuat barang terkait; Uraian mengenai metode yang digunakan untuk menguji kualitas barang yang dihasilkan; Dan Label yang digunakan pada barang dan memuat Indikasi-Geografis.

Ujicoba sistem sambung Pipper Colubrinum yang akrab disebut Melada sebagai batang bawah yang disambungkan dengan lada Piper nigrum L di Kebun Dawar Mandiri Farm

“Meskipun prosesnya panjang dan memerlukan kerjasama tim yang solid, pihaknya terus berupaya memenuhi kriteria yang diminta, tentunya dengan harapan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Bengkayang khususnya dinas terkait yang membidanginya,”ujar Kori  yang alumnus SLTP Petra, Sanggau Ledo.

Fluktuasi harga lada putih kering pada saat saat tertentu dapat mencapai Rp. 100.000/kg. Saat sekarang masih harga normal antara Rp. 40.000 - Rp. 50.000/kg, sangat mendongkrak perekonomian masyarakat petani di sentral perkebunan lada di Kalimantan Barat.

Menurut Koriadi, wilayah persebaran tanaman lada di Kabupaten Bengkayang utamanya terdapat di Kecamatan Tujuh Belas, Kecamatan Seluas, Kecamatan Sanggau Ledo dan Kecamatan Suti Semarang, meskipun secara sporadis ada terdapat persebarannya dalam skala kecil di empat belas kecamatan lainnya. “Namun dalam mempersiapkan dokumen terkait Indikasi Geografis Varietas Lada Bengkayang, pihaknya bersama tim mengkhususkan pada tanaman lada yang ada di Kecamatan Tujuh Belas, Kecamatan Sanggau Ledo dan Kecamatan Suti Semarang,”ujar Kori yang alumnus SDN 11 Dawar.

Mengenai ujicoba sistem sambung Pipper Colubrinum yang akrab disebut Melada sebagai batang bawah yang disambungkan dengan lada Piper nigrum L, Kori menjelaskan, memang pihaknya ada melakukan ujicoba sekitar 10 tanaman sistem sambung ini, namun hingga saat ini pihaknya belum melakukan penyimpulan terkait daya tumbuh, daya tahan terhadap penyakit dan tingkat produktivitasnya,”ujar Koriadi menambahkan, semenjak serangan busuk akar, rata-rata produksi 1 hektar hanya sekitar 0,5 – 1 ton per hektar.

Konsistensi Organik Farm

Sementara itu beberapa catatan hasil kunjungan Tim Tenaga Ahli Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar, sebagaimana dikemukakan Suherman selaku Koordinator Tenaga Ahli mengemukakan, perkembangan serangan penyakit jamur pirang yang cukup cepat dan menjadi momok bagi petani termasuk jamur patogen Phytophthora capsici, hendaknya perlu diantisipasi secara lebih cermat karena pilihan Dawar Mandiri Farm yang konsisten dijalur pengelolaan secara organik.

Oleh karena itu mencermati perbaikan teknis budidaya tanaman lada terutama jarak tanam menjadi 2 meter  X  2,5  meter dan lanjar hidup tidak memakai tanaman karet tetapi dianjurkan tanaman Gliricidia sepium (gamal) dan tanaman Erythrina variegata (dadap).

Kebun lada yang sedang diusahakan, agar segera dilakukan pemangkasan sulur sulur tidak berguna, cabang cabang tajar hidup, dan cabang bawah dekat pangkal batang, bertujuan dapat mengurangi kelembaban lingkungan kebun.

Kebun lada Dawar Mandiri Farm mengukuhkan diri sebagai penghasil lada organik dengan mengedepankan ketaatasasan pada pemeliharaan tanaman lada secara alami

Terhadap tanaman yang terserang penyakit jamur pirang, agar segera lakukan pengendalian dengan pemangkasan bagian tanaman yang terserang, pengolesan atau penyiraman ekstrak lengkuas pada cabang ranting yang terserang.

Sedangkan untuk mempertahankan mutu lada yang tinggi dengan rendemen (nilai prosentase perbandingan antara nilai kering terhadap nilai basahnya) dengan cara merendam pada alur air mengalir tanpa cemaran air limbah sangat dianjurkan dan harus terus dipertahankan.

Intinya, ujar Suherman, dari proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan hingga produk hilir berupa bubuk lada, pihak Dawar Mandiri Farm dan Lada Max harus konsisten dengan Standard Operating Procedure (SOP) sehingga perlahan tapi pasti akan membangun kepercayaan pasar dalam negeri dan luar negeri.

Salut untuk Lada Max yang sudah berani dan mampu menembus pasar modern yang ada di Kota Pontianak. Dan di Sukabumi, Jawa Barat bertepatan dengan HUT RI yang ke-75.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code