Pendekar Kelapa’ Mude Geliat Kreativitas Dampak Pandemi Covid-19

PONTIANAK- Kemampuan mengklasifikasi buah kelapa muda dari yang tidak ada isi (daging buah) atau berisi hanya air, isi lembut atau encer, isi sedang, dan isi tebal tapi lembut, mungkin hanya Jumaidi, 33 tahun, yang punya keahliannya.

“Saya berani mengatakan saya adalah orang pertama di dunia yang berani memastikan kelapa muda yang sudah saya klasifikasi dengan warna pita yang beda adalah sesuai dengan isi kelapa muda yang berbeda pula,”ujar Jumaidi, yang memegang merek dagang Asam Manis Kampus. Sebab baru Jumaidi yang berani menjamin jualan kelapa mudanya sesuai dengan klasifikasi isi dan warna pita yang sudah dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis kelapa muda.

Oleh Jumaidi, yang menamakan usahanya Asam Manis Kampus, bersama rekan kerjanya  Doni Pandra, 36 tahun ini, setiap jenis kelapa muda diberinya tanda Pita Merah yaitu kelompok kelapa muda yang tidak ada isi atau hanya air. Pita Pink yaitu kelompok kelapa muda yang isinya lebut atau tidak encer. Pita Biru yaitu kelompok kelapa muda yang isinya sedang. Dan Pita Kuning yaitu kelompok kelapa muda yang isinya tebal tapi lembut.

“Menandai kelapa muda dengan klasifikasi jaminan isi sesuai dengan warna pita ini ternyata memudahkan orang untuk memesan kelapa muda yang dikehendaki, pita merah, pita pink, pita biru atau pita kuning,”ujar Jumaidi yang mengaku usaha barunya ini terkategori dadakan.

Disebut bisnis dadakan, ujar Jumaidi, pasalnya, setelah dirinya gagal diusaha kafe, Jumaidi sempat jualan es sari tebu. Saat berjualan es sari tebu itulah Jumaidi dihampiri pedagang pengecer kelapa muda yang numpang berteduh karena hujan. Gagal menemui relasi pengecernya lantaran ingkar janji, si penjual kelapa muda tersebut akhirnya menawarkan kepada Jumaidi untuk mau membeli 35 buah kelapa muda kepada Jumaidi.

Jawab Jumaidi: “Es sari tebu aja sudah banyak saingan dan sepi pembeli, mau jualan kelapa muda lagi, ya tidaklah. Tapi kalau mau kelapa mudanya dititipkan dengan saya bolehlah”. Tak dinyana rupanya, tak lama kemudian silih berganti orang datang membeli kelapa muda yang dititipkan kepada Jumaidi tadi. Dan akhirnya keterusan sejak 2013 hingga saat ini.

Rupanya, dari jualan kelapa muda, Jumaidi mengidentifikasi konsumen yang menyukai 4 (empat) jenis kelapa muda sesuai dengan minat atau tujuannya masing-masing. Seiring berjalannya waktu, kemahiran memilih dan memilah buah kelapa muda dan memberinya tanda pita sesuai dengan isinya ini akhirnya menjadi berkah tersendiri bagi Jumaidi dan Doni Pandra.

Untuk memberikan sentuhan yang beda pada usaha jualan kelapa mudanya ini, Jumaidi yang juga atlet Kushin Ryu M Karate-do Indonesia, Kota Pontianak, setiap hari mengenakan pakaian khusus ala karateka yang dilengkapi kacamata dan sepatu boot.

Menurut Jumaidi, dikenakannya pakaian ala karateka ini karena memang dirinya atlet Kushin Ryu M Karate-do Indonesia (KKI). Sedangkan tambahan kacamata dan sepatu boot tidak lain adalah untuk keselamatan kerja. “Jika setiap hari saya terkena percikan air kelapa atau sabut kelapa yang nota bene ada getah kelapanya, maka mata saya bisa terganggu kesehatannya. Demikian juga dengan sepatu boot, yang sewaktu-waktu alat-alat kerja bisa jatuh dan mengenai kaki, bisa cidera,”ujar Jumaidi yang sadar akan betapa pentingnya alat pelindung diri saat bekerja.

Kini Jumaidi dan Doni Pandra semakin mantap menekuni bisnis kelapa muda yang diberi nama Asam Manis Kampus yang berada di Jalan Prof. Dr. M. Yamin, Pontianak Selatan. Setiap hari target penjualannya 300 kelapa muda dengan harga jual bervariasi Rp 6.000 – Rp 7.000 per buah.

Dari beberapa supplier kelapa muda dari daerah sekitar Kota Pontianak, ujar Jumaidi,  yang pernah bekerjasama dengannya, yang terbaik kelapa muda yang berasal dari kawasan Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Buahnya besar dan airnya manis.

Menyadari akan semakin berkurangnya lahan petani kelapa, dan mengantisipasi kepastian pasokan kelapa muda, kini Jumaidi sudah mulai berkebun kelapa sendiri sekira 3 hektar. “Sekira 3 tahun lagi pohon kelapa yang saya tanam sudah bisa panen,”ujar Jumaidi yang secara khusus menanam kelapa hibrida yang pertumbuhannya cepat menghasilkan.

Menjawab prospek ke depan berbisnis kelapa muda yang akrab dengan logat Pontianak disebut kelapa’ mude ini, Jumaidi optimis konsumen kelapa muda akan terus bertambah dan menargetkan nanti setiap hari harus bisa menjual 1.000 buah kelapa muda.

Secara terpisah Suherman SE selaku Koordinator Tenaga Ahli PLUT KUMKM Prov. Kalbar mengemukakan, saat pandemi Covid-19 sekarang ini kita perlu pelaku usaha yang kreatif dan mampu menjawab tantangan. "Kreativitas semacam ini harusnya muncul dari pelaku usaha lainnya, maka kreatiflah membaca keinginan konsumen dan peluang pasar yang ada,"ujar Suherman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *