Resmi Guno: Pasar Tradisional Delima Wujud Revitalisasi dan Restorasi Koperasi

PONTIANAK- Untuk menyelesaikan problem kemiskinan, kesenjangan dan ketersediaan pangan pokok rakyat diperlukan revitalisasi dan restorasi peran koperasi. Berdirinya Pasar Tradisional Delima yang diprakarsai Koperasi Mitra Sahabat Indonesia adalah bukti keseriusan insan koperasi untuk berperan mendampingi pelaku usaha mikro dan kecil dalam upaya menghadirkan koperasi dalam praktek perekonomian rakyat.

Demikian dikemukakan Drs. Resmi Guno selaku Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Koperasi UKM Prov. Kalbar saat meresmikan Pasar Tradisional Delima, Sabtu 7 September 2019, di Jalan Harapan Jaya, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak.

Menurut Resmi Guno, revitalisasi peran koperasi di era industri 4.0 sekarang ini mendapatkan peran yang strategis untuk menyelesaikan problem kemiskinan, kesenjangan dan ketersediaan pangan pokok rakyat.

Kehadiran Pasar Tradisional Delima yang dikelola oleh Koperasi Mitra Sahabat Indonesia ini sangat tepat di era industri 4.0 untuk menjembatani ekonomi digital yang memudahkan hubungan antar manusia, efisien dan produktivitas tinggi dalam segala aspek kehidupan.

Pasar Tradisional Delima ini hendaknya menjadi miniatur ekonomi kerakyatan dalam era industri 4.0 yang melahirkan budaya ekonomi berbagi (sharing) dan berkolaborasi, baik “aset maupun akses” informasi serta sumber daya sehingga menghasilkan efisiensi kolektif.

Sementara itu Aris Risman selaku Ketua Pengurus Koperasi Mitra Sahabat Indonesia dalam kesempatan itu mengemukakan, pihaknya tahap pertama ini berhasil memfasilitasi 35 lapak berjualan bagi usaha mikro dan kecil yang selama ini mengalami kesulitan tempat berusaha.

Dengan adanya kejelasan tempat usaha semacam ini memudahkan pengurus koperasi untuk menghimpun, membimbing, membina dan melatih anggota. “Ada rencana koperasi untuk mengembangkan pasar tradisional di tempat lain, namun kehadiran Pasar Tradisional Delima ini kami jadikan sebagai ajang pengalaman dan pembelajaran ke depannya agar lebih baik lagi,”ujar Aris Risman.

Secara terpisah Abdullah Husaini SE selaku Konsultan Pendamping Bidang Kelembagaan PLUT-KUMKM Prov. Kalbar mengemukakan, prakarsa Koperasi Mitra Sahabat Indonesia ini patut dijadikan contoh bagi lembaga perkoperasian lainnya agar kegiatan ekonomi kerakyatan benar-benar mengakar dalam masyarakat.

Menurut Andullah Husaini, kehadiran pasar tradisional yang diwujud-nyatakan sebuah koperasi seperti yang diprakarsai Koperasi Mitra Sahabat Indonesia ini benar-benar mampu menjawab persoalan paling bawah dalam masyarakat. “Warga dapat menjangkau pusat perbelanjaan kebutuhan sehari-hari yang relatif dekat dengan tempat tinggal. Pelaku usaha mikro dan kecil mendapat tempat usaha yang terjangkau dan representatif. Perputaran dan pertumbuhan ekonomi skala kecil dapat memunculkan satelit ekonomi baru dalam radius 3 kilometer,”ujar Abdullah.

Dijelaskan Abdullah, pada tataran implementatif di era industri 4.0, gerakan koperasi indonesia lebih tepat diarahkan untuk membangun koperasi pedesaan karena, pertama, kemiskinan dan pengaruh globalisasi rentan terhadap rakyat miskin yang sebagian besar hidup di pedesaan.

Gerakan pemberdayaan dari, oleh, dan untuk mereka sendiri dilandasi jiwa dan semangat gotong royong yang merupakan nilai dasar Pancasila menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu, dalam badan usaha koperasi, keluarga miskin yang menjadi anggotanya memiliki identitas ganda, yaitu sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi. Identitas inilah yang membedakan koperasi dengan badan usaha lainnya sehingga koperasi memiliki fungsi pemberdayaan sekaligus perlindungan. Fungsi pemberdayaan usaha dilakukan melalui subsidi silang dan pengambilan risiko bersama (tanggung renteng), sedangkan, fungsi perlindungan melalui jaminan harga dan pasar barang/jasa kebutuhan anggota.

Menurut Abdullah Husaini, dalam arsitektur ekonomi rakyat ini, koperasi harus mempunyai dua pilar utama, yakni jaringan kelembagaan ekonomi rakyat yang merupakan jaringan lembaga distribusi nasional dan jaringan keuangan nasional yang sehat dan kuat berbasis digital. Idealnya, koperasi dapat membentuk dan memiliki seluruh jaringan tersebut lewat kemitraan setara dengan BUMN dan swasta dengan memanfaatkan teknologi informasi/digitalisasi.

“Diharapkan dengan berkembangnya jaringan tersebut, Koperasi Mitra Sahabat Indonesia akan menjadi unicorn yang berperan utama dalam kegiatan ekonomi rakyat khususnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak,”ujar Abdullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *