Koperasi Karya Mandiri Produksi Gula Merah Sawit

PONTIANAK- Pemerintah Kabupaten Landak, sedang memacu percepatan program peremajaan sawit rakyat yang luasnya diprediksi lebih dari 4.800 hektar. Upaya percepatan peremajaan sawit rakyat tersebut selain untuk menjamin keberlangsungan pasokan tandan buah segar untuk pabrik crude palm oil yang ada juga untuk memastikan mata rantai ketergantungan ekonomi masyarakat petani sawit terjamin.

Persoalan menurunnya produktivitas tandan buah segar sawit saat pohon berusia lebih dari 25 tahun disertai berkurangnya pendapatan petani inilah yang kemudian muncul ide untuk memanfaatkan nira dari batang sawit tua yang ditebang dalam proses peremajaan kebun.

Adalah Ir. Sudianto, 51 tahun, selaku Manajer Koperasi Karya Mandiri, yang mencoba menampung tetes demi tetes nira yang keluar dari pucuk muda atau umbut sawit yang telah ditebang. Jika sebelumnya proses peremajaan kebun sawit dilakukan penghancuran secara mekanis seluruh batang sawit tua, maka kali ini dengan kesepakatan pemilik lahan dan beberapa kelompok kerja peremajaan kebun, cara mekanis coba ditinggalkan.

“Dengan menampung tetes demi tetes nira pada umbut pucuk muda sawit, tak dinyana setiap batang sawit bisa menghasilkan 2,5 liter sampai 3 liter nira per hari,”ujar Sudianto, saat bedah produk gula merah sawit produksi Koperasi Karya Mandiri, Kabupaten Landak, Gedung PLUT-KUMKM Prov. Kalbar, Jumat 30 Agustus 2019, Jalan Sutan Syahrir, Pontianak.

Jika satu orang tenaga penyadap mampu menyadap 50 batang, sedangkan tenaga penyadap berjumlah 25 orang, maka diprediksi setiap hari bisa terkumpul sebanyak 3.400 liter. Dan dalam proses pembuatan gula merah sawit ini secara bertahap Koperasi Karya Mandiri yang baru mulai merintis bulan Mei 2019, baru mempekerjakan 10 tenaga kerja. Namun setidaknya setiap bulan Koperasi Karya Mandiri pasti menyediakan 1 – 3 ton gula merah sawit dalam bentuk padat bongkahan.

Menurut Sudianto, secara umum masyarakat sudah mengenal gula merah dari kelapa atau dari pohon enau, namun sosialisasi pengenalan gula merah sawit ini tidak mengalami kesulitan. Bahkan jika dibandingkan dengan gula merah kelapa dan gula merah enau yang rata-rata dijual Rp 60.000 per kg, maka dalam tahap pengenalan ini gula merah sawit di tingkat Kabupaten Landak dijual dengan harga Rp 20.000 per kg. Sedangkan untuk pasaran Kota Pontianak dijual dengan harga Rp 25.000 per kg.

Menyinggung kandungan yang terdapat pada gula merah sawit, Sudianto memaparkan, Palm Brown Sugar atau gula merah sawit ini berkhasiat menurunkan berat badan, membersihkan darah dan meningkatkan hemoglobin, meredakan nyeri haid, mencegah anemia, mencegah gangguan sistem syaraf dalam tubuh, mencegah asma, batuk dan alergi. Mampu menjaga ketahanan tubuh, meredakan nyeri sendi dan keram, membantu kesulitan baung air kecil. Meningkatkan stamina dan mencegah sariawan. Mencegah penyakit kanker usus.

Sedangkan kandungan yang terdapat dalam gula merah sawit ini diantaranya karbohidrat, protein, kalsium, zat besi, fosfor, vitamin B3, vitamin C, serat makanan sukrosa dan fruktosa rendah, zat fitonutrien, flavonoir, antosianidin, antioksidan, glutamin sodium potasium, magnesium dan selenium.

Adapun masa pemanenan satu batang sawit selama 30 hari dengan mekanisme penyadapan sehari sebanyak dua kali yaitu pagi dan sore hari.

Setelah 30 hari, ujar Sudianto, batang sawit siap untuk dihancurkan. Proses penghancuran batang sawit yang sudah diambil niranya ini jauh lebih cepat membantu pemulihan struktur tanah sekitar daripada batang yang dihancurkan tanpa dilakukan pengambilan nira.

Yang perlu hati-hati dalam proses pengambilan nira ini adalah saat mengupas helai demi helai pelepah daun sawit sampai pada lembaran pelepah lembut bagian dalam yang sensitif dengan benda tajam. “Jika tidak hati-hati maka goresan luka sayat pada kulit umbut akan menyebabkan tetesan air nira tidak fokus masuk pada wadah yang sudah disediakan.

Menyinggung kemungkinan untuk membuat gula semut sawit, Sudianto memaparkan, pihaknya fokus pada gula merah sawit padat terlebih dahulu, karena keterbatasan sumberdaya manusia, pemasaran dan permodalan.

Menurut Suherman, selaku Koordinator Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar, gula merah sawit produksi Koperasi Karya Mandiri, Kabupaten Landak, dalam bentuk padat ini patut dibanggakan sebagai sebuah inovasi disaat fluktuasi harga TBS yang merugikan petani.

“Hampir sulit dibedakan dari segi bentuk dan rasa dengan gula merah kelapa maupun gula merah aren,”ujar Suherman yang dibenarkan para konsultan pendamping lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *