Azizah Figur Sukses Pilot Project BP3TKI Dan PLUT-KUMKM

PONTIANAK- Azizah petani hidroponik sayuran dan ikan tambak yang berdomisi diKecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, adalah salah satu contoh sukses pendampingan bersama terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna dan Keluarga di Kalimantan Barat.

Keuletan Azizah bukan saja diperlihatkan dari aspek hulu keseriusannya merintis tata kelola hidroponik yang untuk sebagian orang sulit, rumit dan susah berhasil, tetapi juga aspek hilir, tentang bagaimana menjual langsung hasil kerja kerasnya. Keluar masuk perkantoran swasta dan pemerintah dilakukannya untuk menjual hasil keringatnya sendiri.

“Saya ini tak berpendidikan, tapi mau belajar. Saya ini korban tenaga kerja di luar negeri yang mau mengubah nasib dengan cara yang halal,”ujar Azizah, Senin 22 April 2019 saat menjajakan sayur selada. Azizah  bahkan sempat kecewa dengan respon sebuah kantor dinas pertanian yang memandang sebelah mata ketika dirinya menawarkan hasil kebunnya kepada para pegawai.

Sebagaimana diketahui, untuk memberikan pendampingan yang optimal kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna dan Keluarga di Kalimantan Barat, sebagai dampak keberadaan Pos Lintas Batas Antar Negara di Aruk (Kab. Sambas), Badau (Kab. Kapuas Hulu) dan Entikong (Kab. Sanggau), BP3TKI Pontianak, Agustus 2018 lalu bersepakat menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan Dinas Koperasi dan UKM Prov. Kalbar Cq.  Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Prov. Kalbar.

Pilot project pendampingan yang optimal kepada PMI Purna dan Keluarga di Kalimantan Barat ini perlahan namun pasti telah membuah hasil. Salah satunya adalah Azizah, 42 tahun, yang berdomisili di Dusun III, Desa Rasau Jaya III, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. “Saya baru memanfaatkan lahan pekarangan rumah saja,”ujar Azizah yang bertekad ingin punya lahan usaha hidroponik yang lebih luas lagi dan terpadu dengan konsep edu-wisata dan agro-wisata.

Pelatihan demi pelatihan diikuti Azizah dengan tekun dan semangat mau belajar. Bimbingan demi bimbingan dan motivasi yang diberikat para konsultan pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar menjadi awal kesuksesan yang mulai memperlihatkan hasilnya.

Menurut Azizah, salah satu yang memotivasinya untuk giat belajar dan bekerja keras tak lain karena dirinya sudah punya pengalaman pahit kerja di luar negeri. Bahkan Azizah menghimbau kepada generasi muda, janganlah mau kerja di luar negeri kalau tidak punya pendidikan dan ilmu pengetahuan serta ketrampilan.

Kini Azizah  tersenyum melihat hasil jerih payah dari hanya pemanfaatan lahan pekarangan rumah saja yang sudah menghasilkan aneka sayur-mayur hidroponik yang dipadukan dengan tambak ikan.

Sementara itu Suherman SE selaku Koordinator Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar mengemukakan kesuksesan Azizah ini adalah bukti bahwa pilot project penanganan bersama PMI Purna dan Keluarga antara BP3TKI Pontianak dan Dinas Koperasi dan UKM Prov. Kalbar PLUT KUMKM Prov. Kalbar ini benar-benar menjadi harapan sebuah benchmark atau point of reference against which things may be compared or assessed bagi BNP2TKI.

Dikemukakan Suherman, PLUT-KUMKM melakukan “total services” untuk meningkatkan kapasitas PMI Purna dan Keluarga. Peningkatan kapasitas PMI Purna dan Keluarga menjadi wirausaha UMKM ini penetrasinya nanti diharapkan mampu memasarkan produk secara digital atau e-commerce.

Oleh karena itu, ujar Suherman, jika PLUT-KUMKM sudah bertekad melakukan “total services” untuk bertumbuh-kembangnya UMKM di Kalimantan Barat, maka kini tinggal terpulang kepada UMKM itu sendiri, sebab PLUT-KUMKM sudah menyediakan tempat dan para ahli untuk melakukan konsultansi pendampingan bidang pemasaran, konsultansi pendampingan bidang kelembagaan, konsultansi pendampingan bidang produksi, konsultansi pendampingan bidang SDM, konsultansi pendampingan bidang IT, konsultansi pendampingan bidang pembiayaan dan konsultansi pendampingan bidang jaringan kerjasama.

“Oleh karena itu sangat disayangkan apabila fasilitas yang sudah disediakan Pemerintah ini tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi upaya peningkatan kapasitas baik bagi wirausaha pemula maupun wirausaha yang dalam kegiatan bisnisnya mengalami kendala,”ujar Suherman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *