Abah: Produsen Lempok Durian Terbesar di Kota Pontianak

PONTIANAK- Pasang surut produksi lempok atau dodol durian seirama dengan musim panenan buah durian. Artinya, saat buah durian sedikit maka produksi lempok pun sedikit. Tetapi jika musim panenan melimpah, maka sepuluh kuali besar di atas tungku pembakaran Rumah Produksi Dodol Durian “Abah” semuanya berasap. Ibu-ibu sibuk bekerja.

Dalam kesempatan ini, Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT KUMKM) Prov. Kalbar, Kamis 24 Januari 2019, dalam program Coaching On The Spot berkenan mengunjungi Rumah Produksi Dodol Durian “Abah” yang terletak di Jalan Parwasal Dalam RT. 003 / RW. 024, Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara, kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Jika satu kuali menghasilkan 15 kg, maka pada saat panen raya durian, Rumah Produksi Lempok Durian “Abah” bisa mencapai hasil produksi 450 kg lempok per hari. Sehingga tidak mengherankan pada saat musim panen raya seperti tahun ini, persediaan lempok durian “Abah” masih tersedia di atas 10 ton.

Khairul Anam, 26 tahun, adalah penerus usaha keluarga dari Marhayat, sang ayah, yang mewarisi rahasia membuat lempok durian yang legit, kenyal, tekstur adonan lembut, dengan kematangan yang sempurna.

Sebenarnya, tanpa bertanya pun, Rumah Produksi Lempok Durian “Abah” akan dengan mudah ditemukan. Jika sudah memasuki kawasan Jalan Parwasal Dalam, aroma harum adonan durian sudah mulai wangi keciuman  dari pinggir jalan. Ditambah lagi ada spanduk kecil yang bertuliskan “Lempok Durian Parwasal” dilengkapi dengan nomor hp 0856 5482 1433; 0812 5618 9077; (WA) 0896 9371 4813.

Dari Jalan Parwasal, kita sudah dapat melihat kesibukan ibu-ibu yang mengadon daging buah durian yang sudah dilepas dari bijinya. Mengaduk terus menerus dengan jeda paling hanya hitungan detik. Jika jedanya terlalu lama maka akan menimbulkan kerak pada bagian bawah kawah. Asap pembakaran dari kayu juga menjadi seni tersendiri bagi ibu-ibu untuk menghindari mata perih. “Semakin lama adonan semakin berat. Dan pada saat itu hampir bisa dipastikan kita dipacu untuk jangan sampai terhenti mengadonnya secara terus menerus,”ujar Khairul yang masih didampingi Marhayat, sang ayah alias “Abah” yang perlahan-lahan menyerahkan pengelolaannya agar bisa ditangani secara serius.

Kunjungan Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar ke Rumah Produksi Lempok Durian “Abah” ini dilakukan sekaligus respon cepat terhadap keluhan Khairul Anam dalam program Coaching Clinic, sewaktu berkunjung ke PLUT-KUMKM Prov. Kalbar, Rabu 23 Januari 2019.

“Kalau dulu saya hanya memproduksi lempok durian saja dan dijual dengan cara partai besar ukuran 26 kg dalam kemasan blek,”ujar Marhayat. Tapi sekarang, Khairul Anam mulai melirik potensi pasar yang lebih luas dan mulai sadar dengan pentingnya “legalitas usaha, branding, packaging dan promosi.

Mengenai prospek pasar dodol durian, ujar Khairul Anam, pihaknya optimis dan mampu memproduksi dan menjualnya, karena psikologi pasar durian ini sudah diketahui. Memang pada saat panen raya durian, secara alamiah muncul usaha-usaha dadakan yang membuat dodol durian skala kecil. Tentu pada saat seperti itu harga jual lempok durian menjadi turun. “Sebagai rumah produksi dodol durian skala besar, kita sama sekali tidak terpengaruh dengan turunnya harga karena pasaran lempok durian diisi oleh para pengrajin dadakan,”ujar Khairul. Namun pada saat kondisi mulai normal yang diikuti dengan menghilangnya buah durian pada saat tidak panen durian itulah baru kemudian industri olahan hilir dodol durian ramai-ramai membeli persediaan dodol durian “Abah” yang memang sudah menyiapkan berton-ton dodol durian dalam kemasan blek yang umumnya digunakan untuk wadah kopi. “Saat ini persediaan dodol durian kita ada di atas 10 ton,”ujar Khairul sambil memperlihatkan kemasan blek ukuran 26 kg yang tersusun rapi di gudang.

Para pelanggan tetap dodol durian “Abah” sama sekali tidak khawatir akan kehabisan persediaan. “Apalagi ada pelanggan-pelanggan tetap yang justru mau membeli dodol durian yang sudah lama disimpan melebihi 12 bulan,”ujar Khairul Anam yang mengakui para pelanggan tetapnya lebih suka dengan kualitas dodol durian yang usia produksinya melebihi 12 bulan ke atas.

Kini dengan dampingan para Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar, Khairul Anam, semakin percaya diri, dan bersepakat untuk mengikuti dampingan, arahan dan bimbingan bagaimana menekuni bisnis rumahan dodol durian yang sesuai dengan tuntutan pasar.

Suherman selaku Koordinator Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar mengemukakan setelah melihat langsung keberadaan Rumah Produksi Dodol Durian “Abah” ini kita sepakat untuk membesarkan usaha ini secara profesional sesuai dengan tuntutan pasar. “Ciri khas Kalimantan Barat dalam hal kuliner salah satunya adalah lempok durian ini. Sebagai komoditi unggulan Kalbar, lempok durian ini pantas menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia dan mancanegara,”ujar Suherman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *