Elisabet Lilis Suryani: Profesiku Petani Jamur

PONTIANAK- Tak semua orang to the point menyebutkan profesinya ketika ditanya pekerjaan bertani. Namun beda dengan Elisabet Lilis Suryani, kapanpun dimanapun berhadapan dengan siapapun spontan dijawabnya: Saya Lilis, profesi petani jamur.

“Aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan jamur. Aku menemukan passion di usaha jamur ini, semoga tak mengalami banyak rintangan dan hambatan,”ujar Lilis yang juga Bendahara pada Komunitas UMKM Talino Khatulistiwa yang sudah menjalin kerjasama dengan Center for Integrated Services of SMEsCo, Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT KUMKM) Prov. Kalbar.

Jamur adalah organisme eukariotik bersel satu dan tidak memiliki klorofil. Jamur atau fungi masuk ke dalam organisme yang memperoleh makanan dari organisme lainnya atau biasa disebut heterotrof. Sehingga ia hidup dengan menguraikan makanan dari bahan organik di sekitar lingkungannya.

Secara umum jamur hidup melalui tiga cara yaitu saprofit, parasit dan mutualisme. Saprofit yaitu cara hidup dengan mengurai sampah organik menjadi anorganik. Sedangkan parasit yaitu cara hidup dengan memperoleh bahan organik dari inangnya (tumpangan), Dan mutualisme yaitu hidup dengan organisme lain agar sama-sama untung. Jamur hanya bisa tumbuh di lingkungan dengan suhu, kelembaban yang sesuai, kemudian pH kurang dari 7 dan lingkungan yang beroksigen meskipun oksigennya rendah.

“Aku kembangkan jamur tiram putih, tiram coklat  dan jamur kuping,”ujar Lilis membuka pembicaraannya dalam beberapa kali pertemuan yang terputus-putus sejak tahun 2018 hingga di pertemuan Selasa 22 Januari 2019,  karena saking sibuknya.

Diawali dengan uji coba menjadi petani jamur tahun 2013 sebanyak 10 log yang diperolehnya dari kerabatnya yang lebih dahulu membudidayakan jamur. “Jujur, guru saya yang paling banyak mendampingi saya untuk memahami jamur ini adalah Google dan Gramedia,”ujar Lilis yang merasakan betapa pelitnya orang untuk berbagi ilmu diseputar budidaya jamur.

Dari produksi jamur 10 log itulah yang Lilis bagi-bagikan kepada teman-temanya, untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa membudidayakan jamur yang orang banyak mengatakan sulit. “Karena respon pasar ada dan menyukai rasa jamur itulah yang mendorong saya untuk terus menekuni budidaya jamur ini,”ujar Lilis bersemangat.

“Siapa yang mau belajar budidaya jamur datanglah kepadaku,”ujar Lilis geram. Ditambahkannya, berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman itu penting, baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri. Untuk orang lain tentu akan membuka lapangan pekerjaan, apalagi pasar jamur belum sepenuhnya mampu dikendalikan oleh para produsen jamur.

Bagi diri sendiri, ujar Lilis, ini yang penting, kalau mau menjadi pengusaha UMKM yang Naik Kelas salah satu syaratnya menurut aku adalah mau berbagi ilmu kepada siapa saja. “Jam terbang berbagi ilmu itulah salah satu indikator kita sebagai pengusaha UMKM menjadi Naik Kelas atau tidak,”ujar Lilis yang selalu tampil ceria ini.

Dari awal ujicoba 10 log, kini Lilis sudah berani mengembangkan di atas 5000 log sebagai media tumbuh jamur. Beberapa jenis jamur yang sudah berhasil dibudidayakan diantaranya tiram putih, jamur tiram coklat, jamur kuping. Dan dalam proses belajar akan dikembangkan juga jamur merang dan jamur kancing. “Tetapi obsesi saya harus mampu membudidayakan jamur-jamur yang ada di hutan kalimantan ini,”ujar Lilis yang berasal dari Simpang Dua, Kabupaten Ketapang.

Pasar jamur yang diproduksi Elisabeth Lilis Suryani ini sudah terserap di beberapa restoran, hotel, carefour dan transmart. “Respon pasar sangat bagus. Cuma sayang pengusaha jamurnya yang sedikit,”ujar Lilis yang bersedia mendampingi para pemula yang mau menumbuhkembangkan budidaya jamur.

Menurut Suherman selaku Koordinator Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM Prov. Kalbar, rintisan usaha yang sudah berkembang dari budidaya jamur yang dilakukan oleh Elisabeth Lilis Suryani ini patut menjadi contoh bagi petani lain untuk mulai percaya diri berprofesi sebagai petani. “Jika memang faktanya bekerja sebagai petani, kita harus bangga dan menyukurinya. Tidak ada yang salah dengan profesi sebagai petani,”ujar Suherman.

Bahkan kita mau, ujar Suherman, semakin banyak orang bangga sebagai petani karena produk pertanian belum bisa tergantikan oleh teknologi untuk langsung bisa dikonsumsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *