Kopi Lada Hitam Mami Ayu Di Lintas Batas Negara Entikong

SANGGAU- Memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada dan dipadukan dengan hiruk pikuk lalu-lalang wisatawan domestik dan wisatawan asing di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong (Indonesia) – Immigration, Customs, Quarantine and Security Tebedu, Kuching (Malaysia) inilah yang mendorong kreativitas munculnya produk Kopi Lada Hitam dan bubuk lada hitam merek Mami Ayu.

Idea membuat rumah produk Mami Ayu berbahan kopi dan lada ini setelah melihat keseharian transaksi hasil bumi masyarakat Kecamatan Entikong dan sekitarnya dengan warga negara Malaysia. Selain itu ada keinginan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di perbatasan yang kerjanya menjadi buruh pikul di sekitar pos lintas batas negara tersebut.

Demikian dikemukakan Wahyu Widayati selaku Owner dari produk Mami Ayu, Rabu 4 April 2018, disela-sela kegiatan Hari Jadi Kabupaten Sanggau yang ke-402 yang mengambil tema "Sanggau Bangga Mengukir Sejarah, Kerja Bersama Membangun Sanggau dari Hati Dengan Cinta".

Berangkat dari keprihatinan melihat kehidupan warga perbatasan itulah maka disepakati pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batas Negeri Indonesia (Bageri) pada 16 Februari 2017, di Dusun Peripin, Desa entikong, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau,  yang bermaksud menggeluti bidang usaha industri makanan dan industri kerajinan berbasis potensi sumber daya alam yang ada.

Menurut Wahyu Widiyati, dasar pembentukan KUB Bageri adalah menciptakan usaha masyarakat lokal yang maju dan mandiri. Sedangkan tujuan berdirinya KUB Bageri adalah untuk menanamkan jiwa kewirausahaan warga perbatasan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengangkat citra daerah Entikong sebagai daerah perbatasan antar negara.

Untuk produk Kopi Lada Hitam kemasan 500 gram dijual dengan harga Rp 75.000, kemasan 250 gram Rp 40.000, kemasan 150 gram Rp 30.000, kemasan 50 gram Rp 10.000. Ada juga kopi lada hitam kemasan gelas Rp 10.000, langsung diseduh. Sedangkan Lada bulat kemasan botol 50 gram Rp 10.000 dan bubuk lada hitam botol ukuran 50 gram Rp 15.000. “Setiap bulan KUB Bageri baru bisa memproduksi kopi lada hitam sebanyak 50 kg,”ujar Wahyu Widiyati yang mendapat dukungan dari masyarakat Entikong, Aparat Desa Entikong dan Muspika Entikong khususnya.

Mengenai respon konsumen lokal dan warga jiran Malaysia, produk KUB Bageri ini cukup diminati karena selain faktor kemasan yang sudah memenuhi standar higiene juga kualitasnya dijamin.  Bahkan produk Mami Ayu sudah dikenal di Batam, Bali, Jakarta, Bandung, namun tidak rutin.

Dikemukakan Wahyu Widiyati, salah satu kendala KUB Bageri sampai saat ini belum memiliki sendiri mesin penggilingan di rumah produksinya. “Selama ini jika mau memproduksi bubuk kopi dan bubuk lada, kami masih menggunakan jasa pihak ketiga yang memiliki mesin penggilingan,”ujar Wahyu Widiyati.

Selain memproduksi kopi dan lada, KUB Bageri yang beranggotakan 30 orang tersebut juga mengakomodir potensi anggota dibidang kerajinan seperti baju, bros, bendo tradisional berbahan kulit kayu kepuak. Sedangkan anggota lainnya ada yang memproduksi penganan tradisional seperti kripik ubi, kripik pisang, serundeng dan seduhan sehat dari bahan racikan Bawang Dayak, Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.

Sejak berkiprahnya rumah produksi KUB Bageri, kehidupan ekonomi masyarakat Entikong mulai terangkat kepermukaan, mengharumkan nama Kabupaten Sanggau dan semakin dikenal luas.

Bagi yang berminat untuk memasarkan produk Rumah Produksi KUB Bageri, dapat menghubungi Ibu Wahyu Widiyati no hp/wa +62 813-5210-7809, atau langsung menuju Rumah Produksi KUB Bageri, Komplek Perumahan No. 4, Dusun Peripin, Desa Entikong, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *