7 Raksasa Industri Bisnis Di Indonesia Yang Diprediksi Mengalami Kebangkrutan Untuk Menjadi Cerminan Bagi Pegiat Pilar- Pilar UMKM

Miris begitu penilaian saya bila mendengar beberapa Industri besar yang pernah saya mampir dan singgahi dulu ketika masih berada di Ibukota  kini berada di ujung tanduk. Yah selama kurang lebih hampir 4 tahun lebih dulu saya berada di Ibukota sebelum akhirnya berbalik pulang kampung ke daerah kembali dan setidaknya tidak hanya di Ibu kota saja namun juga di daerah pun mengalami imbas serupa karenanya. Bisnis itu dinamis. Perubahannya cepat sekali. Yaaa… lagi- lagi kita diingatkan kalau perubahan apapun bisa terjadi di industri bisnis. Jika di kancah global ada Yahoo yang benar- benar heboh, di Indonesia kita dikejutkan dengan tutupnya Sevel dan mirisnya nasib Pasar Glodok saat ini. Tapi yaa… seperti itu lah bisnis. Cepat atau lambat, yang kalah bergerak pasti akan mati.

Efek Bisnis Digital Paling Mempengaruhi Perubahan Industri Bisnis di Indonesia

Semakin sepinya pembeli di mall dan pasar tradisional sudah diprediksi jauh- jauh hari sejak tren bisnis online makin menggeliat. Budaya belanja online yang makin menggila ditambah macet dan panasnya jalanan adalah alasan banyak orang semakin go online untuk memenuhi kebutuhannya. Nggak lagi macet- macetan, pilihan produk tinggal klik sana sini, baca review, chat penjual, ada voucher promo dan lain- lain. Customer benar- benar dimanjakan

Akibatnya, pasar tradisional dan mall kini banyak yang sepi. Perilaku konsumen ini juga lah yang memaksa jenis bisnis tertentu untuk beradaptasi. Jika mereka menolak, maka tinggal menunggu waktu saja untuk mati secara perlahan tapi pasti. Seperti prediksi, berikut ini adalah analisa 7 industri yang makin hari makin terpuruk karena semakin pesatnya bisnis digital di Indonesia :

#1 Supermarket

Seven Eleven yang merupakan salah satu pioner konsep supermarket dan coffee shop yang sempat merajai ibu kota Indonesia.( Sering kali dului sehabis pulang kerja saya biasa nongkrong di supermarket ini ( biasanya di daerah Matraman dan tebet ). Wajar saja, banyak pihak mengaku kaget termasuk saya pribadi saat mengetahui Seven Eleven bangkrut dan terpaksa menutup seluruh gerainya di Indonesia. Bisa dibilang, persaingan bisnis di market serupa memang saat ini sangat ketat. Apalagi sejak ekspansi franchaise minimarket Indonesia meniru konsep yang sama.

Belum lagi gebrakan Amazon dengan AmazonGo yang bisa jadi akan masuk ke pasar Indonesia. AmazonGo ini sendiri adalah supermarket yang terintegrasi dengan aplikasi smartphone dan mengusung konsep ‘no lines, no checkout’ atau ‘tanpa antri, tanpa bayar dikasir’. Jika AmazonGo ini jadi masuk ke Indonesia, maka tentu saja akan menjadi saingan berat untuk brand yang sudah lama bercokol di tanah air, seperti Hypermart, dan Carrefour.

#2 Retail Elektronik

Nah kalau saya berbeli barang Elektronik dulu pasti sering mampir ke sini. Pasar Glodok dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Indonesia. Sayangnya, nasib apes sedang menggelayuti Glodok yang semakin sepi sejak 2-3 tahun belakangan. Hal ini terjadi lantaran pembeli sudah terlanjur menikmati mudahnya berbelanja elektronik secara online. Entah itu laptop, tv atau lemari es, semua lebih mudah dan bisa lebih murah untuk dibelanjakan via online.

#3 Handphone

Awal mula saya di Jakarta beli HP, BB dan tab pun di sini pula karena brand nya juga sudah melegenda sebagai pusat perdagangan HP. Namun sekarang ini mendengar beritanya sepertinya juga tidak jauh berbeda dengan pasar Glodok yang juga mengalami nasib kurang menyenangkan. Barangkali yang stay lama di Ibukota pasti akan merasakan sedikit perbedaan yang sama seperti hal yang saya rasakan.

#4 Industri Transportasi

Nah ini yang pasti semua orang juga merasa meski tidak di Ibukota sekalipun pasti sudah familiar dengar  layanan jasa transportasi online ini. Di Malang pun sempat terjadi demo terkait aktivasi layanan transportasi online ini oleh Bapak- Bapak Sopir baik Angkutan Umum Maupun Taxi.

Yang unik, meskipun perusahaan ini nyaris tidak mempunyai asset transportasi layaknya bisnis transportasi lainnya, perusahaan ini memiliki penghasilan ratusan juta rupiah setiap harinya! Gila!!

Model bisnis ini memang sempat mendapatkan pertentangan dari transportasi offline. Tapi lagi- lagi, kita tak bisa mengendalikan laju inovasi digital. Itulah kenapa banyak perubahan besar- besaran di dunia transportasi offline. Tidak heran, perusahaan taksi raksasa pun sekarang juga merambah ke dunia digital. Karena kalau tidak, mereka akan menunggu waktu saja untuk mati.

#5 Hotel

Pernah dengar tentang AirBnB, Reddoorz atau Airy Room? Model bisnis dari perusahaan ini akan memungkinkan pemilik rumah, villa, apartment  dan bahkan kamar kos agar dapa menyewakan property miliknya kepada orang lain dengan lebih mudah. AirBnB mungkin belum begitu populer di Indonesia, tapi secara perlahan akan membuat industri perhotelan bekerja lebih keras untuk bertahan agar tingkat occupancy mereka tetap di angka menguntungkan. Bahkan di Indonesia kini sudah ada Home Stay, Villka mau konvensional ataupun syariah, tentu bisnis penginapan juga mempunyai trade mark nya sendiri.

#6 Koran dan Majalah

Nah kalau bagi saya pribadi dulu sebelum ada Hanphone canggih saya lebih banyak hunting Koran atau Majalah untuk mengetahui informasi dan berita terutama style yang ada karenanya. Biasanya kalau pas di Malang saya selalu berlangganan Jawa Pos atau Malang Pos dan Majalah SWA ataupun Liberty. Namun sekarang pun tinggal klik di HP langsung dengan mudah saya dapatkan terkait info dan berita apa yang saya mau.Memang sangat disayangkan karena kini semakin banyak industri media cetak yang terpaksa menutup bisnisnya karena tingginya biaya cetak Koran serta semakin sepinya pembeli karena tidak mampu bersain dengan media informasi online. Selain itu, beberapa bisnis media cetak juga mentransformasikan diri mereka menjadi media online. Tentu saja bertransformasi menjadi media online lebih baik daripada harus gulung tikar karenanya.

#7 Tekstil

Sejak berdiri tahun 1735, Pasar Tanah Abang telah menjadi salah satu pusat penjualan tekstil terbesar se- Asia Tenggara. Namun, dibandingkan dengan tahun lalu, pasar ini mengalami penurunan penjualan hingga lebih dari 50%! Hal ini disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah menurunnya daya beli masyarakat, dan yang kedua karena mereka harus bersaing dengan eCommerce (toko online) yang semakin membuat masyarakat semakin ketagihan.

Nah setidaknya 7 industri besar itu tadi pun bisa menjadi cermin bagi para pelaku penggiat UMKM karenanya, apakah mau terjun ke bisnis online? Dengan resiko lebih kecil daripada memulai bisnis offline, bisnis online juga menjanjikan peluang untuk berkembang yang lebih besar dan lebih cepat. Pilihan ada di tangan Anda!.So hemat saran saya, bagi para pelaku UMKM yang berada di domain topografi area PLUT - KUMKM, segeralah bergabung dan manfaatkan peluang program yang ada bagi kemajuan usaha Anda terutama perihal Kampung Digital dengan adanya kerjasama yang sudah terjadi antara PLUT KUMKM dan PT. Telkom karenanya. Mari bersinergis bersama pilar- pilar UMKM  dalam mewujudkan UMKM Kuat Bangsa Berdaulat

Disadur dan diceritakan kembali oleh : Heri Eko Prasetyo S.E ( Konsultan Bisnis- Produksi CIS Kab. Malang )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *