Lam Blang : Gampong Bernyayi !

Perjalanan panjang, menikuk, naik-turun perbukitan menjadi agenda utama dikala siang itu. Setelah melewati pedalaman Kabupaten Aceh Besar, sampailah Konsultan PLUT Aceh ke sebuah perkampungan yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Tidak ada bedanya dengan kampung-kampung yang lainnya, sawah-sawah yang membentang luas, aroma padi yang mulai menghilang setelah musim panen berlalu. Atmosfir kesunyian menyeruak disetiap sisi, walaupun dibakar oleh teriknya matahari, terlihat binar cahaya kepuasan muncul dari penglihatan yang mengesankan. Inilah dia perkampungan yang kami juluki “Gampong Bernyanyi”.

Gampong1 Lam Blang Trieng Kec. Darul Imarah merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Besar, salah satu Gampong yang bertetangga dengan Kota Banda Aceh. Gampong Lam Blang Trieng merupakan sebuah gampong yang tidak terlalu dikenal maupun terkenal di kalangan masyarakat Aceh. Apabila kita telusuri di Google hampir tidak kita temukan gambaran ataupun cerita tentang Gampong tersebut. Tapi siapa sangka sejak saat Belanda mencoba menguasai Aceh, Gampong ini sudah memproduksi Parang yang ber-merk LB. Masyarakat Aceh sendiri tau bahwa Parang yang paling bagus yang beredar di pasar ialah Parang bermerek LB (Lam Blang) hanya saja, masyarakat tidak tau darimana asal muasal parang tersebut. Namun, memasuki masa kejayaan Parang LB muncullah oknum-oknum yang mereplika merk LB dan menjual di pasar-pasar. Sehingga, lambat-laun kondisi seperti ini sangat merugikan masyarakat Gampong Lam Blang.

Pada tanggal 23 April 2017, Muhammad Furqan2 didampingi oleh Dody Resmal3 mengunjungi Gampong Lam Blang tempat di Produksinya Parang LB. Sesampai disana, kami langsung berjumpa dengan salah satu Pande4. Sambil melakukan kegiatan mentoring, kami mendengar keluhan yang dihadapi oleh Pande tersebut dan hampir semuanya mengalami persoalan yang sama. Saat ini pengolahan besi merupakan kegiatan sampingan selain bertani, aktivitas yang mereka lakukan tidak menjadi prioritas utama. Kondisi ini dikarenakan sulitnya memasarkan produk mereka, selama ini mereka hanya menunggu agen yang mengambil hasil olahan untuk dipasarkan ke luar. Selain itu, mereka hanya mengolah apabila ada yang pesan. Sulitnya memasarkan produk, merupakan permasalahan yang menjadi momok menakutkan bagi keberadaan pengolahan besi tersebut. Apalagi dengan diekspornya peralatan (parang, cangkul, dll) dari Medan5, ini menjadi kanker yang hinggap apabila Pemerintah Daerah tidak merevitalisasi keberadaan mereka.

Dari hasil pengamatan, hampir disetiap rumah warga terdapat dapur untuk pengolahan besi dan rata-rata satu dapur terdapat 3 alat. Alat pengolahan yang tergolong masih tradisional ini aktif digunakan oleh para Pande pada saat musim jak u blang6 berakhir. Bayangkan pada saat mereka sedang melakukan aktivitasnya, bunyi tang, ting, tung, menjadi lantunan merdu yang menghiasi di setiap pelosok gampong. Kedatangan PLUT Aceh ke Gampong Lam Blang sangat berdampak positif terhadap para Pande-pande tersebut, selain mendapat informasi para Pande pun sudah mengetahui kemana mereka mengadu jika suatu saat diperlukan bantuan oleh mereka. Minimnya informasi yang mereka dapatkan membuat industry mereka berjalan di tempat. Maka dari itu, adanya PLUT-KUMKM di Indonesia diharapkan mampu menjadi Mother bagi mereka. Selain itu, PLUT juga harus mampu memberikan kontribusi apapun kepada mereka dalam mengembangkan usaha yang sudah berjalan puluhan tahun.

 

1Desa

2Konsultan Bidang Produksi

3Kasubbag Galery

4Pandai (sebutan untuk para pengolahan besi)

5Ibukota Sumatera Utara

6Turun ke Sawah

Admin : DR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *