Ada Rupiah Dibalik Limbah Ban Bekas

PONTIANAK- Ditengah kesibukan kuliah, delapan mahasiswa-mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, Pontianak, memanfaatkan waktu untuk berdiskusi dengan para dosen untuk mematangkan idea memanfaatkan ban bekas menjadi produk furnitur yang bernilai jual.

Diskusi tematis terkait masalah pemasaran, produksi dan manajemen keuangan diantara kedelapan mahasiswa-mahasiswi tersebut dengan para dosen yang peduli dengan idea kreatif ini akhirnya membuahkan hasil. Dari semula menjadi limbah yang sulit terurai dan teronggok di bengkel-bengkel dan bahkan ditempat pembuangan sampah, akhirnya dengan polesan kreativitas bisa bernilai jual dan pantas ditempatkan di rumah warga.

Dijelaskan Egit, bahan utama yang dominan adalah ban mobil bekas. Sedangkan bahan tambahan lainnya yang juga berasal dari limbah adalah potongan-potongan bambu yang diambil dari sisa tukang cat bangunan yang diantaranya diambil di Mesjid Raya Mujahiddin, Pontianak, yang kami lihat sudah teronggok untuk dibuang.

Memadukan limbah ban bekas, bambu bekas, dan material asesories pelengkap lainnya inilah yang ingin “Re Furniture” persembahkan bagi konsumen yang peduli, dengan maksud semakin mempercantik interior dan eksterior rumah-rumah diperkotaan umumnya.

Sementara itu Fakhri menjelaskan, untuk mendapatkan ban bekas, pihaknya secara bersama-sama harus merogoh kocek sebesar Rp. 15.000,- sampai Rp. 30.000,- per ban, harganya bervariasi tergantung besar kecilnya ban. Sedangkan material bambu bekas relatif lebih mudah hanya diminta, karena setelah pengecatan, biasanya bilah bambu itu dibuang para pemilik bangunan.

“Jika sudah disentuh dengah kreativitas, kursi dan meja berbahan limbah ini dihargai Rp. 1.500.000,- per unit, yang terdiri dari dua kursi dan satu meja,”ujar Aulia.

Bagaimana respon pasar ? Menurut Aulia, respon pasar cukup baik. Meskipun usaha rintisan delapan mahasiswa-mahasiswi ini tergolong baru berusia sebulan, namun sudah ada yang berminat membeli.

Adapun workshop Re Furniture ini terletak di Jl. Parit H. Husin II, Komplek Acisa Permai No. 12, Kelurahan Bangka Belitung Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.

Mengenai kendala yang dihadapi, ujar Aulia, sebagai pemula Re Furniture terbentur dengan modal usaha. “Meskipun material yang dominan adalah limbah, namun untuk mendapatkannya tetap harus merogoh kocek juga,”ujar Aulia.

Menanggapi kendala yang dihadapi tersebut, Muhammad Sahiruddin, selaku Konsultan Bidang Pembiayaan dan Suherman selaku Koordinator  PLUT Prov. Kalbar mengemukakan untuk memberikan dorongan kepada penggiat wirausaha pemula, Kemenkop dan UKM mengeluarkan petunjuk teknis terkait pelaksanaan bantuan pemerintah berupa uang tunai senilai minimal Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dan maksimal sebesar Rp. 13.000.000,- (tiga belas juta rupiah).Bantuan Pemerintah yang bersumber dari APBN Kemenkop dan UKM tersebut dalam bentuk belanja Bantuan Pemerintah.

Adapun persyaratan wirausaha pemula penerima bantuan adalah individu yang memiliki rintisan usaha produktif dan/atau penggiat usaha yang mempunyai potensi mengembangkan usaha dan usahanya telah berjalan minimal 6 bulan dan maksimal 3 tahun. Membuat proposal usaha. Belum pernah menerima bantuan dana yang sejenis dari Kemenkop dan UKM. Berusia 45 tahun, berpendidikan minimal SLTP, memiliki KTP, memiliki legalitas usaha berupa ijin usaha mikro kecil (IUMK) atau surat keterangan domisili dari Kantor Kelurahan setempat. Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP), memiliki sertifikat pembekalan kewirausahaan, memiliki rencana usaha, memiliki rekening tabungan yang masih aktif atas nama penerima bantuan.

“Jika ada yang berminat, mohon melengkapi berkas dimaksud, atau konsultasikan kepada konsultan PLUT Prov. Kalbar, untuk  selanjutnya jika sudah lengkap akan dikordinasikan dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kab/Kota/Prov. Kalbar untuk membuat rekomendasi yang ditujukan kepada Deputi Bidang Pembiayaan,”ujar Suherman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *